Senin, 19 Maret 2012

Kepemimpinan Kreatif

print this page

Sumber Asli: http://imamsuprayogo.com/viewd_artikel.php?pg=1423

Salah satu syarat agar komunitas maju maka harus memiliki pemimpin yang kreatif. Seorang disebut kreatif manakala memiliki banyak ide, pendapat, prakarsa, dan sejenisnya. Orang kreatif biasanya sekaligus juga cerdas. Demikian pula sebaliknya,orang yang tidak kreatif biasanya lamban dan hanya mengikuti kebiasaan, adat istiadat dan juga peraturan. Orang yang tidak kreatif tatkala mau melangkah selalu mencari pedoman, aturan dan juga undang-undangnya.
Perguruan tinggi mengantarkan mahasiswa dan juga dosen-dosennya agar mengembangkan kreativitas seluas-luasnya. Mahasiswa dikatakan lulus manakala dilihat sehari-hari lewat karya dan penampilannya dipandang telah memiliki kreativitas yang tinggi. Begitu pula para dosennya, mereka dinaikkan pangkat manakala telah memiliki karya-karya ilmiah dari hasil kreativitasnya. Para dosen yang telah berhasil membuat karya-karya ilmiah sejumlah tertentu, maka dikukuhkan sebagai guru besar. Oleh karena itu guru besar mestinya adalah seorang yang memiliki kreativitas tinggi.

Untuk menumbuhkan jiwa kreatif itu, maka komunitas perguruan tinggi harus selalu berada pada suasana bebas, terbuka dan berani. Siapapun memang, manakala tidak berada pada suasana seperti itu, maka kreativitasnya tidak akan muncul. Seorang penakut tidak akan mampu melahirkan idea-idea baru. Begitu pula orang yang tertutup dan merasa dirinya terikat oleh berbagai hal, maka idenya tidak akan lahir. Orang yang merasa tidak bebas, terikat atau terbelenggu tidak akan menghasilkan karya-karya kreatif yang seharusnya dihasilkan.

Orang perguruan tinggi harus dibedakan dari para birokrat, tentara atau polisi tingkat menengah ke bawah, apalagi para security di berbagai tempat. Dosen harus dibedakan dari pegawai kantor pemerintah atau yang serupa dengan itu. Pegawai kantor atau birokrat yang dipentingkan adalah loyalitasnya. Semakin loyal, pegawai kantor dan tentara klas menengah ke bawah dianggap semakin baik. Ketaatannya pada aturan harus dinomor satukan. Pegawai kantor dan tentara tidak boleh membantah, lebih-lebih pada atasan. Seorang tentara manakala sudah diperintah untuk menembak misalnya, maka perintah itu harus dijalankan, dan segera ditembakkan.

Lain halnya adalah para ilmuwan. Seorang yang sehari-hari bekerja dengan nalarnya, maka tidak bisa digerakkan dengan cara komando. Apa saja yang diperintahkan harus didasari pada logika yang kokoh, bukti-bukti yang kuat, hingga perintah itu dianggap masuk akal. Orang di perguruan tinggi tidak mudah diharapkan untuk bersikap samikna wa athokna, atau kami mendengar dan kami segera mentaati. Oleh karena itu di perguruan tinggi, orang selalu berdiskusi, dialog, seminar dan lain-lain. Dengan cara itu, kadang beresiko, yaitu bahwa dalam penyelesaian persoalan menjadi lama, karena harus berdiskusi dan berembuk. Namun itulah ciri khas orang kreatif dan yang seharusnya ditumbuh-kembangkan oleh perguruan tinggi.

Budaya perguruan tinggi seperti itu ------bebas, berani dan terbuka, tidak akan tumbuh manakala mereka dihadapkan oleh peraturan, ketentuan, atau undang-undang yang membelenggu. Memang peraturan dan undang-undang masih tetap diperlukan tetapi tidak harus terlalu bersifat detail atau rinci dan mengikat. Komunitas perguruan tinggi justru tidak memerlukan ikatan, melainkan adalah sebaliknya, yaitu iklim kebebasan, keterbukaan dan keberanian itu. Peraturan atau undang-undang dibuat agar terjadi ketertiban, sementara perguruan tinggi harus menghasilkan hal baru, pandangan baru, dan bahkan ciptaan baru. Sesuatu yang baru selalu menyebabkan ketertiban terganggu, namun manakala dilarang, maka institusi dimaksud akan kehilangan ruh yang seharusnya ditumbuh-kembangkan.

Akhir-akhir ini, perguruan tinggi menghadapi problem yang mendasar, yaitu suasana keterikatan. Sekedar penerimaan mahasiswa baru saja diatur oleh pemerintah. Membuka program studi, menaikkan pangkat para dosennya, dan bahkan meluluskan saja harus diatur oleh pemerintah pusat. Kebijakan seperti itu menjadikan seolah-olah di dalam kampus sudah tidak ada lagi orang kreatif. Padahal perguruan tinggi sebenarnya adalah merupakan rumah atau tempat berkumpulnya orang-orang kreatif yang seharusnya tidak terlalu diatur, agar dengan cara itu daya kreativitasnya menjadi tumbuh dan berkembang.

Masyaraklat kreatif tentu harus dipimpin oleh orang kreatif. Pemimpin perguruan tinggi tidak boleh hanya mendasarkan pada petunjuk, peraturan, dan sejenisnya. Jika demikian maka apa bedanya, pimpinan perguruan tinggi dengan seorang lurah, camat atau tentara atau polisi tingkat menengah ke bawah. Pimpinan perguruan tinggi, oleh karena dipersyaratkan bergelar Doktor dan bahkan profesor, maka harus diberlakukan sama dengan seorang jendral. Profesor Doktor sebagai rektor atau pimpinan perguruan tinggi harus diberikan ruang seluas-luasnya untuk berkreasi. Namun sayangnya, akhir-akhir ini ruang gerak itu seolah-olah ditutup rapat. Saya merasa kasihan, ada seorang ketua sekolah tinggi diadili dan ditahan di penjara, karena hanya membuka program studi baru. Jika hal itu dibenarkan, maka bangsa ini akan kehilangan hartanya yang amat berharga, yaitu institusi yang bertugas menumbuh-kembangkan kreativitas. Wallahu a'lam.

0 komentar: