Kamis, 09 Februari 2012

Sejarah Pendidikan Islam

print this page 
RANGKUMAN BUKU
SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM
(Penulis: Dra. Zuhairini, dkk

A. Pengertian Sejarah Pendidikan Islam
Pengertian tentang sejarah pendidikan Islam atau tarihut Tarbiyah Islamiyah dalam buku Zuhairini yaitu:
a.      Keterangan mengenai pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam dari waktu ke waktu yang lain, sejak zaman lahirnya Islam sampai dengan masa sekarang.
b.      Cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, baik dari segi ide dan konsepsi maupun segi institusi dan operasionalisasi sejak zaman nabi Muhammad saw sampai sekarang

B. Objek dan Metode Sejarah Pendidikan Islam
Objek Sejarah Pendidikan Islam mencakup fakta-fakta yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam baik informal, formal, maupun non-formal. Sejalan dengan peranan Agama Islam sebagai dakwah menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran, menuju kehidupan yang sejahtera lahir dan bathin (material dan spiritual), namun sebagai cabang ilmu pengetahuan, objek sejarah pendidikan Islam umumnya tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan dalam objek-objek sejarah pendidikan, seperti mengenai sifat-sifat yang dimilikinya, dengan kata lain bersifat menjadi “sejarah sebagai subjek

Sedangkan dalam penulisan sejarah pendidikan Islam metode yang digunakan ialah:
1.   Metode Deskriptif
Ialah bahwa ajaran-ajaran Islam, sebagai agama yangn dibawa Rasulullah SAW dalam Quran dan hadis, terutama yang berhubungan dengan pengertian pendidikan, harus diuraikan sebagaimana adanya, dengan maksud unutk memahami makna yang terkandung dalam ajaran tersebtut.
2.   Metode Komparatif
Dimaksudkan bahwa ajaran-ajaran Islam itu dikomparasikan dengan fakta-fakta yang terjadi dan berkembang dalam kurun-kurun serta di tempat-tempat tertentu untuk mengetahui adanya persamaan dan perbedaan dalam suatu permasalahan tertentu, sehingga diketahui pula adanya garis yang tertentu yang menghubungkan pendidikan Islam dengan pendiidkan yang dibandingkan.
3.   Metode dengan pendekatan Analisi-Sintesis
Analisis artinya secara kritis membahas, meneliti istilah-istilah, pengertian-pengertian yang diberikan oleh Islam, sehingga diketahui adanya kelebihan dan kekhasan pendidikan Islam. Dan sintesis dimaksudkan untuk memperoleh kesimpulan yang diambil guna memperoleh satu keutuhan dan kelengkapan kerangka pencapaian tujuan serta manfaat penulisan sejarah pendidikan Islam

C. Kegunaan Sejarah Pendidikan Islam
Secara umum sejarah mengandung kegunaan yang sangat besar bagi kehidupan umat manusia. Oleh sebab itu kegunaan sejarah pendidikan Islam meliputi dua aspek, yaitu kegunaan yang bersifat umum dan kegunaan yang bersifat akademis.
1.      Bersifat Umum, sejarah pendidikan Islam mempunyai kegunaan sebagai keteladanan. Seperti tersirat dalam firman Allah.
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym    
Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik (33:21),
ö@è% bÎ) óOçFZä. tbq7Åsè? ©!$# ÏRqãèÎ7¨?$$sù ãNä3ö7Î6ósムª!$# öÏÿøótƒur ö/ä3s9 ö/ä3t/qçRèŒ 3
Artinya: Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu (3:31),
çnqãèÎ7¨?$#ur öNà6¯=yès9 šcrßtGôgs? ÇÊÎÑÈ  
Artinya: ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (7:158).

2.      Bersifjat Akademis, kegunaan sejarah pendidikan Islam selain memberikan pembendaharaan perkembangan ilmu pengetahuan (teori dan praktek), juga untuk menumbuhkan perspektif baru dalam rangka mencari relevansi pendidikan Islam terhadap segala bentuk perubahan dan perkembangan ilmu teknologi. Dalam syllabus Fakultas Tarbiyah IAIN, kegunaan studi sejarah pendidikan Islam diharapkan dapat:
a.       Mengetahui dan memahami pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, sejak zaman lahirnya sampai sekarang.
b.      Mengambil manfaat dari proses pendidikan Islam, guan memecahkan problematika pendidikan Islam pada masa kini.
c.       Memiliki sikap positif terhadap perubahan-perubahan dan pembaharuan-pembaharuan sistem pendidikan Islam.
Selain dari hal-hal diatas, kegunaan sejarah pendidikan Islam juga sangat penting bagi para pelajar, agama dan para pemimpin. Karena dengan mempelajari sejarah pendidikan Islam kita dapat mengetahui, sebab-sebab kemajuan Islam yang disebabkan dalam hal mengajar dan mendidik dan sebab-sebab kemundurun Islam, dikarenakan salah dalam mendidik dan mengajar

D. Periodesasi Sejarah Pendidikan Islam
Kemudian dalam buku Dra. Zuhairini dijelaskan bahwa periode-periode tersebut di bagi menjadi lima masa, yaitu:
1.      masa hidupnya Nabi Muhammad SAW (571-632 M)
2.      masa Khalifaur Rasyidin di Madinah ( 632-661 M)
3.      masa kekuasaan Umawiyah di Damsyik (661-750 M)
4.      masa kekuasaan Abbasiyah di Baghdad ( 750-1250)
5.      masa dari jatuhnya kekuasaan Khalifah di Bagdad tahun 1250 M s/d sekarang
Adapun periodisasi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia adalah sebagai berikut:
1.      Fase datangnya Islam ke Indonesia.
2.      Fase pengembangan dengan melalui proses adaptasi
3.      Fase berdirinya kerajaan-kerajaan Islam (proses politik)
4.      Fase kedatangan orang Barat (zaman Penjajahan)
5.      Fase penjajahan Jepang
6.      Fase Indonesia merdeka
7.      Fase pembangunan


PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM

A. Masa Pembinaan Pendidikan Islam
1. Pelaksanaan Pendidikan Islam di Makkah
Fase pendidikan Islam di Makkah merupakan pase terberat bagi Nabi Muhammad SAW karena di Makkah Nabi banyak mengalami kendala dan tantangan yan datang dari masyarakat Makkah itu sendiri, hal ini dikarenakan ketidak sukaan orang-orang Makkah terhadap agam Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, oleh karena itu sebelum Nabi Muhammad SAW memulai tugasnya sebagai rasul, yaitu melaksanakan pendidikan Islam terhadap umatnya , Allah telah mendidik dan mempersiapkanya untuk melaksanakan tugas tersebut secara sempurna , melaui pengalaman serta peran sertanya dalam kehidupan masyarakat dan lingkungan
Ada dua bentuk pendidikan yang dilaksanakan oleh Nabi Muhamad SAW di Makkah:
a). Pendidikan Tauhid, dalam teori dab praktek
Nabi Muhammad SAW dalam melaksanakan tugas keraulanya berhadapan dengan nilai warisan Nabi  Ibrahim yang telah banyak menyimpang dari yang sebenarnya. Inti warisan tersebut adalah ajaran tauhid, tetapi ajaran tersebut dalam budaya yang dihadapi oleh Nabi Muhammad, telah pudar dalam budaya masyarakat bangsa Arab Jahiliah.
Pelaksanaan atau praktek pendidika tauhid tersebut diberikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya dengan cara yang sangat bijaksana yaitu dengan menuntun akal pikiran untukmendapatkan dan meniru pengertian tauhid yang di ajarkan, dan sekaligus beliau memberikan teladan dan contoh agaimana pelaksanaan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari secara kongkrit, kemudia beliau memerintahkan agar umatnya mencontoh praktek pelaksanaan tersebut sesuai dengan apa yang dicontohkanya. Berarti di sini Nabi Muhammad SAW telah mampu menyesuikan diri dengan pola kehidupan masyarakat jahiliah dengan mengajarkan ilmu tauhid secara baik dengan tanpa kekerasan. Hal in sesuai pernyataan yang saya kutip dari salah satu buku Filsafat Pendidikan Islam yang menyatakan “manusia hidup dalam masyarakat, di mana dia harus menyesuikan diri di dalanya
b). Pengajaran Al-Qur’an di Makkah
Al-Qur’an adalah intisari dan sumber pokokdari ajaran Islam yang di smpaiakn oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya. Tugas Nabi Muhammad SAW disamping Mengajarkan tauhid juga mengajarkan Al-Qur’an kepada umatnya, agar secara utuh dan sempurna menjadi milik umatnya yang selanjutnya akan menjadi pegangan dan pedoman hidup bagi kaum muslimin sepanjag zaman.
Ada beberapa faktor yan memungkinkan Nabi Muhammad SAW mengajarkan Al-Qut’an dengan baik dan sempurna. Masyarakat bangsa arab pada masa itu di kenal sebagai masyarakat ang ummi yang pada umumnya tidak dapat membaca dan menulis.
2. Pelaksanaan Pendidikan Islam di Madinah
Ketika Rasulullah dan para sahabat hijrah ke Madinah salah satu program pertama yang beliau lakukan adalah pembangunan sebuah masjid. Setelah  selesai pembangunan masjid, maka nabi Muhammad Saw pindah menempati sebagian ruangannya yang memang khusus disediakan untuknya. Demikian pula di antara kaum Muhajirin yang miskin yang tidak mampu membangun tempat tinggalnya sendiri.
Masjid itulah pusat kegiatan Nabi Muhammad saw bersama kaum muslimin, untuk secara bersama-sama membina masyarakat baru, masyarakat yang disinari oleh tauhid dan memcerminkan persatuan dan kesatuan umat. Dimasjid itulah beliau bermusyawarah mengenai berbagai urusan, mendirikan shalat berjemaah, membacakan al-Quran, maupun membacakan ayat-ayat yang baru diturunkan. Dengan demikian masjid itu merupakan pusat pendidikan dan pengajaran.
Suatu kebijaksanaan yang sangat efektif dalam pembinaan dan pengembangan masyarakat baru di Madinah, adalah disyari`atkannya media komunikasi berdasarkan wahyu, yaitu shalat Jumat  yang dilaksanakan secara berjemaah dan adzan. Dengan shalat Jumat tersebut hampir seluruh warga masyarakat berkumpul untuk secara langsung  mendengar khutbah dari nabi Muhammad Saw dan shalat Jumat berjemaah
Pada fase Madinah materi pendidikan yang diberikan cakupannya lebih komplek dibandingkan dengan amteri pendidikan fase Makkah. Di antara pelaksanaan pendidikan Islam di Madinah adalah :
1)   Pendidikan ukhwah ( persaudaraan) antara kaum muslimimin
Dalam melaksanakan pendidikan ukhwah ini, nabi Muhammad saw bertitik tolak dari struktur kekeluargaan yang ada pada masa itu. Untuk mempersatukan keluarga itu nabi Muhammad saw berusaha untuk mengikatnya menjadi satu kesatuan yang terpadu. Mereka dipesaudarakan karena Allah bukan karena yang lain-lain. Sesuai dengan isi kontitusi Madinah pula, bahwa antara orang yang beriman, tidak boleh membiarkan saudaranya menanggung beban hidup dan utang yang berat di antara sesama mereka. Anatara orang yang beriman satu sama lainnya harusla saling bantu membantu dalam menghadapi segala persoalan hidup. Mereka harus bekerja sama dalam mendatangkan kebaikan, mengurus kepentingan bersama dan menolak kemudaratan atau kejahatan yang akan menimpa
2)     Pendidikan kesejahteraan sosial
Terjaminnya kesejahteraan sosial, tergantung pertama-tama pada terpenuhinya kebutuhan pokok daripada kehidupan sehari-hari. Untuk itu setiap orang harus bekerja mencari nafkah. Untuk mengatasi masalah pekerjaan tersebut, nabi Muhammad Saw memerintahkan kepada kaum Muhajirin yang telah dipersaudarakan dengan kaum Ansor, agar mereka bekerja bersama dengan saudara-saudaranya tersebut. mereka kaum Muhajirin yang biasa betani silakan mengikuti pertanian, yang biasa berdaganga silakan mengikuti saudara yang berdagang. Untuk pengamanan nabi Muhammad Saw membentuk satuan-satuan pengamat yang mendapat tugas untuk menjaga kemungkinan-kemungkinban terjadinya serangan dan gangguan terhadap kehidupan kaum muslimin. Satuan-satuan ini adalah merupakan embrio dari pasukan yang bertugas untuk mengamankan dan mempertahankan serta mendukung tugas-tugas da`wah Islam lebih lanjut.
3)     Pendidikan kesejahteraan keluarga kaum kerabat
Yang dimaksud dengan keluarga adalah suami, istri dan anak-anaknya. Nabi Muhammad Saw berusaha untuk memperbaiki keadaan itu dengan memperkenalkan dan sekaligus menerapkan sistem kekeluargaan kekerabatan baru, yang berdasarkan taqwa kepada Allah. Diperkenalkannya sistem kekeluargaan dan kekerabatan yang berdasarkan pada pengakuan hak-hak individu, hak-hak keluarga dan kemurniaan keturunannya dalam kehidupan kekerabatan dan kemasyarakatan yang adil dan seimbang, seperti yang terlihat dalam surat al-Hujarat ayat 13 :
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ  
Artinya: Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu
Hubungan kekerabatan, terbentuk dengan sendirinya sebagai akibat dari aturan tentang muhrim dan ahli waris bagi seorang yang meninggal dunia serta aturan perwalian. Dalam hubungan kekerabatan ini, ciri-ciri individu dan keluarga tampak jelas dan menonjol dengan hak milik terhadap harta kekeyaan, sedangkan ciri kekerabatan hanya nampak pada hakekatnya hubungan antar individu yang ditandai dengan tidak boleh melaksanakan perkawinan intern kerabat.
4)     Pendidikan hamkam (pertahanan dan keamanan ) dakwah Islam
Masyarakat kaum muslimin merupakan satu state (negara)  di bawah bimbingan nabi Muhammad saw yang mempunyai kedaulatan. Ini merupakan dasar bagi usaha dakwahnya untuk menyampaikan ajaran Islam kepada seluruh umat manusia secara bertahap. Oleh karena itu setelah masyarakat kaum muslimin di Madinah berdiri dan berdaulat, usaha nabi Muhammad Saw berikutnya adalah memperluas pengakuan kedaulatan tersebut dengan jalan mengajak kabilah-kabilah sekitar Madinah untuk mengakui konstitusi Madinah. Ajakan tersebut disampaikan dengan baik-baik dan bijaksana.
Untuk mereka yang tidak mau mengikat perjanjian damai ada dua kemungkinan tindakan nabi Muhammad Saw yaitu (1) kalau mereka tidak menyatakan permusuhan atau tidak menyerang kaum muslimin atau kaum kabilah yang telah mengikat perjanjian dengan kaum muslimin, maka mereka dibiarkan saja; (2) tetapi kalau mereka menyatakan permusuhan dan menyerang kaum muslimin atau menyerang mereka yang telah mengikat perjanjian damai dengan kaum muslimin, maka harus ditundukan/diperangi, sehingga merka menyatakan tunduk dan mengakui kedaulatan kaum muslimin

B. Masa Pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan Islam
Pada masa pembinaannya yang berlangsung pada zaman nabi Muhamad SAW, pendidikan Islam berarti memasukkan ajaran-ajaran Islam kedalam unsur-unsur budaya. Ada beberapa hal yang terjadi dalam pembinaan tersebut :
1.      Islam mendatangkana unsur-unsur yang sifatnya memperkaya dan melengkapi unsur budaya yang telah ada. Misalkan Al-Qur’an yang diturunkan kepada nabi muhamad, pada masa sebelum al-qur’an diturunkan bangsa Arab memiliki tingkat seni sastra yang tinggi berupa syair, sehingga membuat orang-orang arab merasa bangga membaca syair yang mereka buat. Setelah diturunkan Al-Qur’an yang memiliki tingkatan yang lebih tinggi, bangsa arab merasa bahwa pengetahuan sastra mereka telah diperkaya dan disempurnakan.
2.      Islam mendatangkan suatu ajaran yang bersifat meluruskan kembali ajaran-ajaran yang telah menyimpang dari ajaran aslinya. Hal ini dimisalkan dengan ajaran tauhid. Bangsa arab sebelum Islam datan mereka hanya menyembah berhala untuk menyembah tuhan mereka, sehingga mereka hanya mengadakan hubungan kepada berhala itu dalam kehidupan sehari-hari mereka. Namun setelah Islam datang, Islam mengajarkan umat manusia menyembah kepada Allah dan melakukan hubungan dengan Allah dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Islam memiliki ajaran yang sifatnya bertentangan dengan budaya yang ada sebelumnya. Dalam hal ini rasulullah sangat berhati-hati dalam mengubah kebuadayaan bangsa Arab yang sebelumnya banyak perbudakan, perjudian pemabukan menjadi budaya yang bersih dari hal-hal tersebut.
4.      Islam tidak merubah kebudayaan yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam yang telah ada sebelum kedatangan Islam, namun tetap mengedepankan pengarahan-pengarahan seperlunya.
5.      Islam mendatangkan ajaran baru yang belum ada sebelumnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan perkembangan budayanya.
             Dengan demikian, terbentuklah suatu tatanan nilai dan budaya Islami yang sempurna dalam ruang lingkup yang sepadan baik dari segi situasi, waktu dan perkembangan zaman. Tatanan inilah yang diwariskan pada generasi yang berikutnya untuk dikembangkan baik secara kualitatif, yaitu meningkatkan nilai budaya yang telah ada sbelumunya maupun kuantitatif, yaitu mengarahkan pada pembentukan budaya dan ajaran yang baru untuk menambah kesempurnaan dan kesejahteraan hidup masyarakat.
1. Pusat-pusat Pendidikan Islam
            Seiring dengan perkembangan penyampaian ajaran Islam diluar madinah, maka dipusat-pusat wilayah yang baru dikuasai oleh Islam, berdirilah pusat-pusat pendidikan yang dikuasai oleh para sahabat yang kemudian dikembangkan oleh para penerus sahabat yang berupa tabi’in dan selanjutnya.
            Mahmud Yunus dalam bukunya menerangkan bahwa, pusat pendidikan tersebut tersebar pada wilayah-wilayah berikut :
  1. di Kota Mekah dan Madinah (Hijaz)
  2. di Kota Basrah dan kufah (Irak)
  3. di Kota Damsik dan Palestina (Syam)
  4. di Kota Fistat (Mesir).
             Dalam pusat-pusat pendidikan tersebutlah para sahabat memberikan pelajaran tentang pengajaran agama Islam pada para penduduk setempat maupun para penduduk yang datang dari daerah lain. Para sahabat menyampaikan pendidikan Islam dalam bentuk kholaqoh di masjid atau tempat pertemuan lainnya yang berupa khuttab ataupun madrasah.
            Pada masa pertumbuhan Islam, terdapat beberapa madrasah yang terkenal, antara lain :
a. Madrasah Makkah
            Puru pertama yang mengajar di madrasah ini adalah Mu’ad bin Jabal yang mengajarkan Al-Qur’an, hukum halal dan haram dalam Islam.
            Pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan (65 – 86 H), Abdullah bin Abbas turut mengajar ilmu tafsir, hadits, fiqih, dan sastra. Sehingga Abdullah bin Abbas lah yang membangun madrasah ini menjadi termasyhur keseluruh negeri Islam.  Ketika Abdullah bin Abbas wafat, maka pengajaran dalam madrasah ini diteruskan oleh para muridnya, antara lain Mujahid bin Jabar seorang ahli tafsir alqur’an yang diriwayatkanya dari ibnu Abbas, Athak bin Abu Rabbah seorang ahli fiqih, dan Thawus bin Kaisan seorang fuqaha dan mufti di Makkah. Kemudian diteruskan kembali oleh Sufyan bin Uyainah dan Muslim bin Khalid al Zanji.

b. Madrasah Madinah
            Madrasah ini lebih termasyhur dari madrasah makkah, karena disini adalah tempat tinggalnya para sahabat rasulullah, termasuk Abu Bakar, Umar dan juga Usman. Diantara sahabat yang mengajar di sini adalah, Umar bin Khattab, Ali bin Abi thalib, Zaid bin Tsabit adalah sahabat yang mahir dalam bidang qiro’at dan fiqih, sehingga belaiaulah yang mendapatkan tugas untuk penulisan kembali Al-Qur’an, dan Abdullah bin Umar seorang ahli hadits yang selalu berfatwa dengan apa yang termaktub dalam hadits dan sebagai pelopor Madzab al Hadits yang berkembang pada generasi yang berikutnya. Setelah para guru yang dahulu meninggal maka pengajaran diteruskan oleh para tabi’in, antara lain Sa’ad bin Musyayab dan Urwah bin Alzubair.
c. Madrasah Basrah
            Ulama sahabat yang terkenal di Basrah antara lain, Abu Musa Al Asy’ari yang terkenal sebagai ahli fiqih, hadits dan ilmu Al-Qur’an, dan Anas bin Malik yang termasykhur dalam ilmu hadits. Diantra guru yang mengajar di sini adalah Hasan Al-Basri seorang ahli fiqih, ahli pidato, dan kisah serta seorang yang ahli fikir dan tasawauf, dan juga Ibnu Sirin seorang ahli hadits dan ilmu fiqih.
d. Madrasah Kufah
            ulma sahabat yang terkenal adalah Ali bin Abi Tahlib yang mengusrui msalah politik dan pemerintahan, dan Abdullah bin Mas’ud sebagai guru agama yang diutus langsung oleh khalifah Umar, disamping itu beliau adalah seorang ahli fiqih, tafsir dan banyak meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah SAW.
e. Madrasah Damsyik
            setelah negeri Syam menjadi bagian dari negeri Islam, maka khalifah Umar bin Khattab mengirimkan tiga guru agama yang ditempatkan pada tempat yang berbeda, antara lain Muadz bin Jabal di Palestina, Abu Dardak di Damsyik, dan Ubadah di Hims. Madrasah ini juga mampu melahirkan imam penduduk syam Abdurrahman Al-Auza’i yang ilmunya sederajat dengan Imam Malik dan Abu Hanifah.
f. Madrsah Fistat (Mesir)
            Sahabat yang semula mendirikan madrasah ini adalah Abdullah bin Amr Al-As merupakan seorang yang ahli dalam ilmu hadits. Kemudian guru yang termasyhur setelah nya adalah Yazid bin Abu Habib Al-Nuby dan Abdillah bin Abu Ja’far bi Rabi’ah.
            Pada masa pertumbuhan pendidikan Islam ini terdapat empat orang Abdullah yang memiliki jasa yang sangat besar dalam mengajarkan ilmu-ilmu agama yang tersebar di berbagai kota, antara lain :
  1. Abdullah bin Umar di Madinah
  2. Abdullah bin Masy’ud di Kuffah
  3. Abdullah bin Abbas di Makkah
  4. Abdullah bin Amr bin Al-Ash di Mesir
            Namun para sahabat tersebut tidak menghafal semua perkataan nabi dan tidak lansung melihat tindakan nabi, sehingga ini memaksa para murid-muridnya untuk belajar ilmu tidak cukup hanya pada satu ulama. Sehingga mereka harus menjelajahi beberapa kota untuk melanjutkan pendidikannya.
2. Pengajaran Al-Qur’an
            Intisari ajaran Islam adalah apa saja yang termaktub dalam Al-Qur’an, sedangkan penjelasan dari apa yang terdapat dalam Al-Qur’an adalah Hadits. Nabi Muhamada telah dengan sempurna memberikan penjelasan dari apa-apa yang dimaksudkan oleh Al-Qur’an. Sehingga rasulullah dianggap telah sempurna dalam penyampaian Al-Qur’an dalam menyampaikan isi kandungan Al-Qur’an sesuai dengan masa itu, sekaligus beliau pula telah memberikan contoh yang sempurna tentang bagaimana cara mempraktekkan dan menjalankan ajaran-ajaran Al-Qur’an.
            Keadaan berubah ketika rasulullah meninggal dunia, bila dulu pengajaran Al-Qur’an bersumber langsung dari Rasulullah SAW maka sekarang bersumber dari para sahabat yang menyampaikan ajaran Al-Qur’an berdasarkan cara-cara yang digunakan oleh Rasulullah SAW, hal ini pun berlanjut pada generasi selanjutnya agar ajaran Al-Qur’an mampu diteruskan dan disampaikan pada orang yang baru masuk Islam.
            Problema pertama yang dialami para sahabat dalam menyampaikan ajaran Aal-Qur’an adalah menyangkut pada Al-Qur’an itu sendiri. Pada saat itu memang Al-Qur’an telah secara lengkap diturunkan dan ada dalam hafalan para sahabat, namun tidak semua sahabat hafal Al-Qur’an secara sempurna. Juga pada saat itu al-Qur’an belum tertulis pada mushaf yang sempurna, yakni Al-Qur’an hanya ditulis oleh para sahabat yang pandai menulis, sesuai yang diperintahkan oleh nabi Muhamad sewaktu masih hidup.
            Sementara itu dengan meninggalnya para sahabat yang hafal Al-Qur’an,  berarti akan makin berkuranglah nara sumber yang mampu menghafal Al-Qur’an dengan sempurna. Sehingga timbullah usaha-usaha untuk mengumpulkan Al-Qur’an.
            Dalam usaha pengumpulan Al-Qur’an tersebut Abubakar sebagai kholifah memerintah kan Zaid bin Tsabit untuk menulis Al-Qur’an. Sehingga terkumpullah Al-Qur’an yang tertulis di atas daun lontar, batu, tanah keras, tulang unta, dan lain-lain.  Dalam mengemban tugasnya ini tentu zaid melakukannya dengan sangat hati-hati dan teliti, walaupun ia sepenuhnya hafal setiap ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an. Dalam mengemban tugasnya Zaid dibantu oleh beberapa sahabat, yaitu Ubai bin Ka’ab, Ali bi Abi Thalib, dan Usman bin Afant.
            Setelah terkumpul semua ayat-ayat Al-Qur’an tersebut, kemudian disusunlah Al-Qur’an itu dalam tempat yang seragam, sesuai dengan susunan dan urutan yang ada dalam hafalan para sahabat. Dengan demikian sempurnalah Al-Qur’an dalam bentuk yang tertulis, dan dalam bentuk bacaan atau hafalan.
            Problema yang kemudian muncul dalam pengajaran Al-Qur’an adalah masalah pembacaan atau qiroat. Bacaan yang terdapat dalam Al-Qur’an adalah dalam bahasa Arab, sehingga orang yang tidak bisa berbahasa Arab harus menyesuaikan lidahnya dengan lidah orang Arab. Sehingga dalam pengajaran Al-Qur’an diselingi dengan pengajaran bahasa Arab praktis.
            Kemudian masalah qiroat ini semakin lama semakin jelas terdapat perbedaan pada cara setiap oarang dalam membacanya, karena setiap orang yang belajar Al-Qur’an pada para sahabat diajarkan dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan logat mereka masing-masing. Namun perbedaan dalam penggunaan logat yang berbeda dalam membaca Al-Qur’an tidak menjadi masalah ketika masih berada pada lingkurang orang Islam yang berbahasa Arab, namun ketika keluar pada kaum muslimin yang tidak berbahasa Arab, maka timbul rasa ketidak fahaman dan perasaan asing akan bacaan Al-Qur’an tersebut. Sehingga pada akhirnya terjadilah pemikiran bahwa bacaannya adalah yang paling benar dan apakah bacaan yang lain itu salah. Hal ini mulai disadari pada masa pemerintahan Usman bin Afan.
            Hal ini pertamakali disadari oleh Hudzaifah bin Yaman ketika ia sedang dalam pertempuran di Armenia dan Azerbeijan. Selama dalam perjalanannya ia mendengarkan pertikaian antar kaum muslim, sehingga ia segera ia mengusulkan pada Kholifah Usman untuk segera mengatasi pertikaian umat Islam tersebut.
            Usman bin Affan pun meminjam naskah atau lembaran-lembaran Al-Qur’an yang ditulis pada zaman pemerintahan Abu Bakar yang disimpan oleh Hafshah binti Umar untuk ditulis kembali ditulis kembali. Dalam penulisan ini Usmant kembali menunjuk Zaid bin Tsabit dan juga orang-orang yang terlibat dalam penulisan Al-Qur’an pada masa nabi Muhamad. Dalam penulisan kembali Al-Qur’an ini Usman memberikan beberapa nasehat pada panitia penulisan, yaitu :
  1. mengambil pedoman pada bacaan mereka yang hafal Al-Qur’an
  2. kalau ada pertikaian antara mereka tentang bacaan tersebut,  maka haruslah dituliskan pada dialek Quraisy, sebab Al-Qur’an itu diturunkan sesuai dengan dialek mereka.
             Al-qur’an yang telah dikumpulkan ini dinamakan Al-Mushaf, dan dibuat sebanyak lima buah mushaf. Kemudian dikirimkan oleh khalifah masing-masing ke Makkah, Syiria, Basrah, dan kuffah, serta yang satu tetap dipegang oleh khalifah di Makkah. Khalifah Usman berpeasan agar catatan yang sebelumnya di bakar dan supaya umat Islam berpegang kepada mushaf yang lima baik dalam pembacaan maupun penyalinan yang berikutnya.
            Dengan demikian manfaat pembukuan Al-Qur’an pada masa Usman adalah :
  1. menyatukan kaum muslimin pada satu macam mushaf yang seragam ejaan tulisannya
  2. menyatukan bacaan, dan kendatipun masih terdapat perbedaannya, namun harus tidak berlawanan dengan ejaan mushaf Utsman. Dan bacaan-bacaan yang tidak sesuai tidak diperbolehkan
  3. menyatukan tartib susunan surat-surat, menurut tertib urut sebagai yang kelihatan pada mushaf-mushaf saat ini.
             Untuk memudahkan pengajaran Al-Qur’an pada kaum muslimin yang tidak berbahasa Arab, maka guru Al-Qur’an telah mengusahakan :
  1. mengembangkan cara membaca Al-Qur’an dengan baik yang kemudian menimbulkan ilmu tajwid Al-Qur’an
  2. meneliti cara pembacaan Al-Qur’an yang telah berkembang pada masa itu, mengenai mana yang sah dan mana yang tidak sah. Kemudian hal ini menimbulkan adanya ilmu qira’at yang kemudian timbul dengan apa yang dikenal dengan qira’at al sab’ah
  3. memberikan tanda-tanda baca dalam tulisan mushaf, sehingga menjadi mudah dibaca dengan benar bagi mereka yang baru belajar membaca Al-Qur’an
  4. memberikan penjelasan tentang maksud dan pengertian yang dikandung oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang diajarkan yang kemudian berkembang menjadi ilmu tafsir.
3. Pertumbuhan dan Perkembangan Kebudayaan Islam
            Pendidikan Islam pada dasarnya adalah mewariskan nilai kebudayaan Islam kepada generasi muda dan mengembangkannya sehingga mencapai dan memberikan manfaat maksimal bagi hidup dan kehidupan manusia sesuai dengan tingkat perkembangannya. Jika perkembangan pendidikan Islam pada masa rasulullah adalah merupakan masa penyemaian niali kebudayaan Islam kedalam sistem kebudayaan bangsa Arab, maka pendidikan Islam yang telah berkembang pada saat ini adalah merupakan pemupukan secara luas nilai dan kebudayaan Islam agar tumbuh dengan subur dalam lingkukngan yang lebih luas.
            Islam adalah agama fitrah, agama yang berdasarkan potensi dasar manusiawi dengan landasan petunjuk Allah. Pendidikan Islam berarti menumbuhkan dan mengembangkan potensi fitrah tersebut, dan mewujudkannya dalam sistem budaya manusiawi yang Islami. Sehingga wajar apabila Islam menerima budaya yang sesuai ajaran Islam dan menolak semua budaya yang menyimpang dari ajaran yang Islami lalu menggantinya dengan ajaran yang baru yang bersifat Islami.
            Masalah yang pertama dialamu oleh para sahabat begitu rasulullah wafat ialah siapa dan bagaimana pengganti yang menggantikannya. Berbagai pandangan berkembang dikalangan sahabat tentang siapa yang berhak menggantikan rasulullah SAW sebagai pemegang kekuasaan tertiggi. Ali bin Abi Thalib pun merasa berhak menggantikan nabi karna faktor pewarisan, namun para sahabat sepakat menunjuk Abu Bakar sebagai kholifah pengganti rasulullah.
            Setelah Mu’awiyah berhasil merebut kekuasaan pada masa Ali, maka sistem politik mengalami perubahan dengan banyak dipengaruhi oleh keuasaan raj-raja Romawi. Dengan berkembangnya sistem politik ini, berkembang pulalah pola dan corak kehidupan masyarakatnya. Pola kehidupan yang lama ingin dipertahankan oleh masyarakat, sehingga menimbulkan banyak permasalahan yang membuat para sahabat terpaksa untuk membuat ketentuan hukum.
            Sebenarnya rasulullah telah memberikan pedoman untuk menentukan memberikan keputusan hukum terhadap masalah-masalah baru yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Yang terang kum dalam sebuah hadits yang meriwayatkan tentang percakan rasul dengan Muadz bin Jabal ketika ia diangkat sebagai hakim di kota Syam.
            Petunjuk nabi Muhamad tersebut adalah dalam memberikan keputusan hukum tersebut adalah pertama-tama hendaknya dicari ketetapan hukumnya dalam Al-Qur’an, jika tidak ada hendaknya dicari dalam As-sunnah atau hadits, dan apa bila tetap tidak menemukan maka menggunakan fikiran yang berupa ijtihad untuk memberikan ketentuan hukum.
            Dalam praktenya ternyata para sahabat tetap merasa kesulitan dalam menentukan hukum, disamping Al-Qur’an hanya menjelaskan ketentuan hukum secara umum, ternya para sahabat juga memiliki masalah dalam menentukan hadits yang sesuai, karena para sahabat tidak semuanya menghafal hadits. Suatu perkara tersebut menjadi sangat jelas ketika terdapat permasalah yang jauh dari para sahabat. Sehingga timbullah pertanyaan tentang bagaimana pengunaan ra’yu ijtihad.
            Dalam berijtihad kemudian berkembang dua pola, yakni Ahl Al-Hadits dalam memberikan ketentuan hukum sangat bertegangan dengan hadits-hadits rasulullah, sehingga bagaimanapun mereka berusaha mendapatkan hadits-hadits tersebut dari sahabat-sahabat yang lain. Sehingga terjadilah usaha pengumpulan hadits-hadits pada masa Khalifah Umar bin Abdul Azis.
            Kemudian pola yang kedua adalah yang dikembangkan oleh Ahl Ar-ra’yu (ahli fikir). Mereka ini karena keterbatasan hadits yang mereka terima dan terdapatnya banyak hadits palsu, sehingga mereka hanya menerima hadits-hadits yang sokheh saja dan lebih banyak menggunakan ra’yu dalam berijtihad. Sehingga ra’yu mendorong terhadap penelitian tentang hadits, yang kemudian lahirlah ilmu hadits.
            Berhadapan dengan pemikiran teologis dari orang kristen yang ingin merusak ajaran Islam, maka dalah Islam berkembanglah ilmu teologi yang semula digunakan khusus untuk melawan pemikiran teologis dari orang kristen, yang dikenal dengan ilmu kalam. Kemudian ilmu kalam ini berkembang menjadi ilmu yang membahas tentang berbagai pola pemikiran yang berkembang dalam dunia Islam.
            Pada garis besarnya, pemikiran Islam dalam pertumbuhannya muncul dalam tiga pola, yaitu :
  1. Pola pemikiran yang bersifat skolastik, yang terikat pada dogma-dogma dan berfikir dalam rangka mencari pembenaran terhadap dogma-dogma agama. Pola pikir ini terikat pada ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits.menurut pola pemikiran ini, kebenaran hanyalah didapat dari wahyu sedangkan akal berfungsi sebagai alat penerimanya.
  2. Pola pemikiran yang bersifat rasional, yang lebih mengutamakan akal fikiran. Pola fikir ini menganggap bahwa akal fikiran sebagaimana juga halnya dengan wahyu, adalah merupakan sumber kebenaran. Akal digunakan sebagai alat untuk mencari kebenaran sedangkan wahyu hanya digunakan sebagai penunjang untuk mencari kebenaran.
  3. Pola berfikir yang bersifat batiniyah dan intuitif yang berasal dari mereka yang mempunyai pola kehidupan sufitis. Menurut pemikiran ini kebenaran yang tertinggi adalah diperoleh dari pengalaman-pengalaman batin dalam kehidupan yang mistis dan dengan jalan berkontemplasi. Dalam proses pemikiran ini, seorang yang ingin mendapatkan kebenaran harus melalui beberapa tahapan, yakni :
  1. tahapan terbawah disebut syari’at
  2. tahapan tharikhat
  3. hakikat
  4. dan tahapan yang tertinggi disebut dengan Ma’rifat. Pada golongan yang tertinggi ini seorang akan mendapatkan kebenaran yang sesungguhnya yang pada mulanya dikembangkan oleh orang sufi.
             dengan demikian jelaslah dengan semakin luasnya kekuasaan wilayah Islam,

C. Masa Kejayaan Pendidikan Islam
Masa ini dimulai dengan berkembang pesatnya kebudayaan Islam yang ditandai dengan berkembang luasnya lembaga-lembaga pendidikan Islam dan madrasah-madrasah formal serta universitas dalam berbagai pusat kebudayaan Islam. Pendidikan tersebut sangat berpengaruh dalam membentuk pola kehidupan, budaya dan menghasilkan pembentukan dan perkembangan dalam berbagai aspek budaya kaum muslimin. Masa dulu pendidikan hanya sebagai jawaban terhadap rintangan dan pola budaya yang berkembang dari bangsa yang baru memeluk agama Islam. Tapi sekarang terus merupakan jawaban tiap tantangan kemajuan budaya Islam itu sendiri yang berjalan pesat. Ada dua faktor yang mempengaruhi kebudayan , yaitu ; Faktor Interen, yaitu yang dibawa dari ajaran Islam itu sendiri dan Faktor Exsteren, yaitu yang dibawa dari luar ajaran Islam.
1. Berkembangnya Lembaga Pendidikan Islam
            Sebelum timbulnya sekolah dan universitas yang kemudian dikenal sebagai lembaga pendidikan formal, dalam dunia Islam sebenarnya telah berkembang lembag-lembaga pendidikan Islam yang bersifat nonformal.
Diantara pendidikan Islam yang bersifat nonformal tersebut adalah:
a. Kutab sebagai lembaga pendidikan dasar
Kutab atau maktab berasal dari kata dasar kutaba yang berarti menulis atau tempat belajar menulis. Sebelum datangnya Islam kutab telah ada di negri arab, walaupun belum banyak dikenal, diantara penduduk mekkah yang mula-mula belajar huruf arab ialah Sufyan Ibnu Umayah Ibnu Abdu Syams dan Abu Qhais Ibnu Abdi Manaf Ibnu Zuhro Ibnu Kilat. Keduanya mempelajarinya di negri hira.
Sewaktu agama Islam diturunkan Allah sudah ada diantara sahabat yang pandai menulis dan membaca. Kemudian tulis baca itu mendapat tempat dan dorongan yang kuat dalam Islam, sehingga berkembang sangat luas dalam kalangan umut Islam. Ayat al-quran yang pertama diturunkan telah memerintahkan untuk membaca dan membarikan gambaran bahwa membaca dan menulis merupakan sarana utama dalam pengambangan ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam.
b. Pendidikan rendah di istana
            Timbulnya pendidikan rendah di istana untuk anak-anak para pejabat adalah berdasarkan pemikiran bahwa pendidikan itu harus bersifat menyiapkan anak didik agar mampu menyiapkan tugas-tugasnya kelak setelah ia dewasa. Atas pemikiran tersebut Khalifah dan keluarganya serta para pembasar istana lainya berusaha menyiapkan agar anak-anaknya sejak kecil sudah diperkenalkan dengan lingkungan dan tugas-tugas yang akan diembannya nanti.
Pendidikan anak-anak di istana berbeda dangan pendidikan anak-anak di kutab pada umumnya. Di istana para orang tua murid (para pejabat istana) adalah yang membuat rencana pelajaran tersebut selaras dengan anaknya dan tujuan yang dikehendaki oleh orang tuanya.
Contoh dari rencana pelajaran dan petunjuk-petunjuk yang dikemukakan oleh para pembesar istana kepada pendidik anak-anaknya agar dijadikan pedoman sebagai berikut ;
  • Berkata Amru Ibnu Utbah kepada pendidik putranya ; “kerjamu yang pertama untuk memperbaiki putra-putriku ialah memperbaiki dirimu sendiri karena mata mereka selalu tertuju kepadamu.
  • Harun Al-Rasyid telah mengajukan rencana pelajaran bagi putranya (Al-Amin) dengan mengatakan sebagai berikut ; ”hai Ahmar sesungguhnya Amirul Mu’minin telah memberikan kepadamu buat hatinya, maka jadikanlah tanganmu terbuka kepadanya dan ketaatannya kepadamu wajib”.
c. Toko-toko kitab
            Pada permulaannya masa Daulah Bani Abasiyah dimana ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam sudah tumbuh dan berkembang dan diikuti oleh penulisan kitab-kitab dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, maka berdirilah toko-toko kitab. Pada mulanya toko-toko kitab tersebut berfungsi sebagai tempat berjual beli kitab yang telah ditulis dengan berbagai macam ilmu pengatahuan yang berkembang pada masa itu. Dengan demikian toko-toko kitab tersebut telah berkembang fungsinya bukan hanya sebagai tempat berjual-beli kitab saja, tetapi juga merupakan tempat berkumpulnya para ulama, pujangga dan ahli-ahli ilmu pengetahuan lainnya untuk berdiskusi, berdebat dan bertukar pikiran dalam berbagai masalah ilmiah.
d. Rumah-rumah para ulama ahli ilmu pengetahuan
            Walaupun sebenarnya rumah bukanlah tempat yang baik untuk tempat memberikan pelajaran namun pada zaman kejayaan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayan Islam, banyak juga rumah-rumah para ulama dan para ahli ilmu pengetahuan menjadi tempat belajar dan pengembangan ilmu pengetahuan.
            Diantara rumah para ulama terkenal yang menjadi tempat memberikan pelajaran adalah rumah Ibnu Sinah, Al-Ghazali, Ali Ibnu Muhammad Al-Fasihi, Yakub Ibnu Kilis, wazir Khalifah Al-Aziz Billah Al-Fatimy dan lainnya. Dan Ahmad Syalab mengemukakan bahwa, dipergunakannya rumah-rumah tersebut adalah karena terpaksa dalam keadaan dalurat. Contoh rumah Al-Ghazali berhenti mengajar karena ingin menjalankan kehidupan sufi.
e. Majelis
Dalam majelis adalah suatu majelis khusus yang diadakan oleh khalifah-khalifah untuk membahas dalam bebagai macam ilmu pengetahuan. Majelis ini dimulai pada masa khalifah Al-Rasyidin yang biasa memberi ketua-ketua dan diskusi dengan para sahabat untuk memecahkan masalah yang dihadapi pada masa itu. Pada masa Harun Al-Rasyid (170-193H) majelis sastra ini mengalami kemajuan yang luar biasa karena khalifah sendiri adalah ahli ilmu pengatahuan dan juga cerdas sehingga khalifah aktif didalamnya. Disamping itu dunia Islam juga diwarnai dengan perkembangan dan negara aman tenang dalam masa pembaharuan.
f. Badi’ah (padang pasir desa tempat tinggal Padwi)
            Sejak berkembang kuatnya Islam dan bahasa arab digunakan sebagai bahasa pengantar sejak berkembangnya umat Islam. Maka bahasa arab cendrung kehilangan keasliannya. Disamping itu di badi’ah berdiri ribat-ribat atau zawiyah yang merupakan pusat kegiatan dari ahli sufi . Disanalah para sufi mengembangkan metode khusus dalam mencapi ma’rifat, suatu tingkat ilmu pengetahuan yang paling tinggi tingkatannya.
g. Rumah sakit
Pada zaman jayanya kemajuan dan kebudayaan Islam dalam rangka menyebarkan ajaran Islam banyak didirikannya rumah sakit oleh khalifah dan para pembesar-pembesar negara. Rumah sakit bukan hanya berfungsi sebagai tempat merawat, tetapi juga menjadi tempat mendidik. Tenaga-tenaga yang berhubungan dengan perawat dan pengobat mereka menjadikan penelitian, percobaan dalam bidang kedokteran dan obat-obatan.
h. Perpustakaan
            Pada zaman perkembangan ilmu pengatahuan dan kebudayaan Islam, buku mempunyai nilai yang sangat tinggi. Buku digunakan sebagi sumber informasi, berbagi macam ilmu pengetahuan yang ada dan telah dikembangkan oleh para ahlinya. Disamping itu perkembangan perpustakaan yang bersifat umum yang diselenggarakan oleh pemerintah atau wakaf dari ulama sarjana di baitul Baghdad yang didirikan oleh khalifah harun Al-Arasyid adalah merupakan suatu contoh dari perpustakaan Islam yang lengkap yang berisi ilmu-ilmu agama Islam dan berbagai macam ilmu pengetahuan.
i. Masjid
            Masjid dalam dunia Islam sepanjang sejarahnya tetap memegang peranan yang pokok, disamping fungsinya sebagai tempat berkomunikasi dengan tuhan juga sebagai tempat lembaga pendidikan dan juga tempat berkumpulnya umat muslim.

2. Sistem Pendidikan Di Sekolah-Sekolah
Timbulnya lembaga pendidikan formal dalam bentuk sekolah adalah merupakan pengembangan semata-mata dari system pengajaran dan pendidikan yang telah berlangsung di masjid-masjid yang sejak awal telah berkembang dan telah dilengkapi dengan sarana-sarana untuk mempelancar pendidikan dan pengajaran didalamnya.
            Faktor-faktor yang menyebabkan berdirinya sekolah-sekolah diluar masjid adalah
  • Khalakah-khalakah (langkaran) untuk mengajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang didalamnya juga terjadi diskusi dan perdebatan yang ramai, sering satu sama lain saling mengganggu disamping mengganggu orang yang beribadah ke masjid.
  • Dengan berkembang luasnya ilmu pengetahuan baik mengenai agama maupun umum maka semakin banyak diperlukannya khalakah (langkaran-lingkaran pengajaran) yang tidak mungkin keseluruhan tertompang dalam ruang masjid.
3. Puncak Kemajuan Ilmu Dan Kebudayaan Agama Islam
Sebagai mana telah dikemukakan bahwa tumbuh dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan kebudayan Islam adalah sebagai akibat dari berpadunya unsur-unsur pembawaan ajaran Islam dengan unsur-unsur yang berasal dari luar. Dalam bidang filsafat ketuhanan atau teologi, perkembangan ilmu kalam dengan berbagai macam pola pikiran, timbullah pula berbagai macam aliran dalam ilmu kalam yang mempunyai pola pemikiran yang bersifat memedukan pola fikir rasional sebagai mana yang tampak pada aliran matu radio. Disamping aliran teologi biasa mempunyai corak khusus sebagaimana yang dikembangkan oleh golongan syi’ah. Semua aliran fikiran tersebut selalu berusaha untuk saling berebut dan mendapatkan dukungan dari pemeritah dan filsafat ilmiah yang berasal dari luar Islam mendapatkan tempat dalam dunia Islam.
            Henri Marginon dan David telah mendaftarkan cabang ilmu pengetahuan yeng telah dikembangkan sebagai hasil perkembangan fikiran yang ilmiah dikalangan kaum muslimin pada masa jayanya. Yang kemudian berangsur-angsur berpindah kedunia barat adalah sebagai berikut ;
  • Dalam bidang matematika,telah dikembangkan oleh para sarjana muslim berbagai macam ilmu pengetahuan,seperti teori ilmu bilangan, aljabar, geometrid dan trigonometri.
  • Dalam bidang fisika, mereka telah berhasil mengembangkan ilmu mekanik dan optika.
  • Dalam bidang kimia, telah berkembangnya ilmu kimia
  • Dalam bidang astronomi, kaum muslimin telah memiliki ilmu mekanika benda-benda langit.
  • Dalam bidang goelogi, para ahli pengetahuan muslim telah mengembangkan geodisi, mineralogy dan meteorology.
  • Dalam bidang biologi, mereka telah memiliki ilmu psikologi, anatomi, betani, embriologi dan patologi.
  • Dalam bidang sosial, telah berkembangnya ilmu politik.
Demikianlah singkatnya dunia Islam pada masa jayanya yang dihiasi dengan berbagai unsur-unsur kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang beraneka ragam dapat diibaratkan sebagi taman yang indah penuh dengan berbagai macam tanaman dan dengan berbagai macam buah dan isi didalamnya.

D. Masa Kemunduran Pendidan Islam

Selanju           tnya diungkapkan oleh M.M Sharif, bahwa pikiran Islam menurun setelah abad ke 13 M dan terus melemah sampai abad ke 18 M. di antara sebab-sebab melemahnya pikiran Islam tersebut, antara lain dilukiskannya sebagai berikut:
1.   Telah berkelebihan berfilsafat Islam (yang bersifat sufistis) yang telah dimasukka oleh Al-Ghazali dalam alam Islam di timur, dan berkelebihan pula Ibn Rusyd dalam memasukkan filsafatnya (yang bersifat rasionalistis) ke dunia Islam di barat. Al-Ghazali dengan filsafat Islamnya menuju ke arah bidang rohaniah hingga menghilang ia ke dalam mega alam tasawuf, sedangkan Ibn Rusyd dengan filasafatnya menuju ka alam yang bertentangan dengan Al-Ghazali. Maka Ibn Rusyd dengan filsafatnya ke jurang materialisme.
      Al-Ghazali mendapatkan sukses di timur, hingga pendapat-pendapatnya menjadi aliran-aliran pemikiran yang terpenting bagi alam timur, sedangkan Ibn Rusyad mendapat kan sukses di barat hingga pikiran-pikirannya menjadi pimpinan yang penting bagi alam pikiran barat.
2.   Umat Islam, terutama para pemerintahnya (Khalifah, Sultan, Amir-Amir) melalaikan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, dan tidak memberi kesempatan untuk berkembang. Kalau pada mulanya pejabat pemerintahan sangat memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan, maka pada masa menurun dan melemahnya kehidupan umat Islam ini, para ahli ilmu pengetahuan umumnya terlibat dalam urusan-urusan pemerintahan, sehingga melupakan perkembangan ilmu pengetahuan.
3.   Terjadinya pemberontakan-pemberontakan yang dibarengi dengan serangan dari luar, sehingga menimbulkan kehancuran-kehancuran yang mengakibatkan berhentinya kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan di dunia Islam. Sementara itu obor pikiran Islam berpindah tangan ke tangan kaum masehi, yang mereka ini telah mengikuti jejak kaum muslimin yang menggunakan hasil buah pikiran yang mereka capai dari pikiran Islam itu.
            Dengan semakin ditinggalkannya pendidikan intelektual, maka semakin statis perkembangan kebudayaan Islam, karena daya intelektual para generasi penerus tidak mampu mengadakan kreasi-kreasi budaya baru, bahkan telah mengakibatkan ketidak mampuan mengatasi persoalan-persoalan baru yang dihadapi sebagai akibat perubahan dan perkembangan zaman. Ketidak mampuan intelektual tersebut, merealisasi dalam pernyataan “bahwa pintu ijtihad telah tertutup”. Maka akibatnya terjadilah kebuntuan intelektual secara total.
Dalam hal ini Fazlur Rahman, dalam bukunya Islam, menjelaskan tentang gejala-gejala kemunduran atau kemacetan intelektual Islam ini sebagai berikut:
Penutupan pintu ijtihad (yakni pemikiran yang orisinil dan bebas) selama abad ke 4 H / 10 M dan 5 H / 11 M telah membawa kepada kemacetan umum dalam ilmu hukum dan ilmu intelektual, khususnya yang pertama. Ilmu-ilmu inteletual, yakni teologi dan pemikiran keagamaan, sangat mengalami kemunduran dan menjadi miskin karena pengecilan mereka yang disengaja dari intelektualisme sekuler dan karena kemunduran yang disebut terakhir ini, khususnya filsafat, dan juga pengucilannya dari bentuk-bentuk pemikiran keagamaan seperti yang dibawa oleh sufisme.
Kehancuran total yang dialami oleh kota Baghdad dan Granada sebagai pusat-pusat pendidikan dan kebudayaan Islam, menandai runtuhnya sendi-sendi pendidikan dan kebudayaan Islam. Musnahnya lembaga-lembaga pendidikan di bagian timur dan barat dunia Islam tersebut, menyebabkan pula kemunduran pendidikan diseluruh dunia Islam, terutama dalam bidang intelektual dan material, tapi tidak demikian halnya dalam bidang kehidupan batin atau spiritual.
Kehancuran dan kemunduran-kemunduran yang dialami oleh umat Islam, terutama dalam bidang kehidupan intelektual dan material ini, dan beralihnya secara drastis pusat-pusat kebudayaan dari dunia Islam ke Eropa, menimbulkan rasa lemah dan putus asa dikalangan kaum muslimin. Ini telah menyebabkan mereka mencari pegangan dan sandaran hidup yang bisa mengarahkan kehidupan mereka.
Kehidupan sufi berkembang dengan pesat. Madrasah-madrasah yangn ada dan berkembang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan sufi. Madrasah-madrasah yang berkembang menjadi zawiyah-zawiyah untuk mengadakan riyadloh, merintis jalan untuk kembali dan menyatu dengan Tuhan, di bawah bimbingan dan otoritas dari guru-guru sufi. Berkembanglah berbagai sistem riyadhah dan jalan atau cara-cara tertentu yang dikembangkan untuk menuntun para murid yang di kenal selanjutnya dengan istilah tariqat.
Kedaan yang demikian, sebagaimana dilukiskan oleh Fazlur Rahman:
Dimadraah-madrasah yang bergabung pada khalaqah-khalaqah dan zawiyah-zawiyah sufi, karya-karya sufi dimasukkan dalam kurikulum yang formal, khususnya di India dimana sejak abad ke 8 H / 14 M karya-karya Al-Suhrawardi (pendiri ordo Suhrawardiyah), Ibn Al-Arabi dan kemudian karya-karya jami’ diajarkan. Tetapi disebagian besar pusat-pusat sufi, terutama di turki, kurikulum akademis terdiri dari hampir seluruhnya berisi tentang sufi. Di Turki waktu itu terdapat beberapa tempat khusus, yang disebut Methnevikhana, dimana masnawinya Rumi merupakan satu-satunya buku yang diajarkan. Lebih jauh lagi, asi dari karya-karya tersebut yang sebagian besar dikuasai patheisme, bertentangan secara tajam dengan ajaran lembag-lembaga pendidikan ortodoks. Karena itu timbullah suatu dualisme spiritual yang tajam dan berlarut-larut antara madrasah dan khalaqah. Ciri khas dari fenomena ini adalah melimpahnya pernyataan-pernyataan sufi yang taubat setelah menemukan jalan yang benar, lalu membakar buku-buku madrasah mereka atau melemparkannya kedalam sumur.
Kemunduran dan kemerosotan mutu pendidikan dan pengajaran pada masa ini, nampak jelas dalam sangat sedikitnya materi kurikulum dan mata pelajaran pada umumnya madrasah-madrasah yang ada. Dengan telah menyempitnya bidang-bidang ilmu pengetahuan umum, dengan tiadanya perhatian kepada ilmu-ilmu kealaman, maka kurikulum pada umumnya madrasah-madrasah terbatas pada ilmu-ilmu keagamaan, ditambah dengan sedikit gramatika dan bahasa sebagai alat yang diperlukan. Ilmu-ilmu kegamaan yang murni tinggal terdiri dari: Tafsir Al-Qur’an, Hadits, Fiqih (termasuk Ushul Fiqih dan prinsip-prinsip hukum) dan Ilmu Klam atau Teologi Islam. Bahkan di madrasah-madrasah tertentu ilmu kalampun dicurigai, dan dimadrasah yang diurus oleh kaum sufi yang memang tersebar luas di negara-negara Islam pada masa itu ditambah dengan pendidikan sufi.
Mata pelajarannya sangat sederhana, yang ternyata dari jumlah total buku-buku yang harus dipelajari pada suatu tingkatan (bahkan tingkat tertinggi sekalipun) sangat sedikit. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan studipun terlalu singkat. Akibat selanjutnya adalah kekurang mendalamnya materi pelajaran yang mereka terima, sehingga kemerosotan dan kemunduran ilmu pengetahuan para pelajarnyapun bisa dibayangkan. Hal tersebut disebabkan karena sistem pangajaran pada masa itu sangat berorientasi pada buku pelajaran, dan bukan pada pelajaran itu sendiri. Oleh karena itu yang sering terjadi pelajaran hanya memberikan komentar-komentar atau saran-saran terhadap buku-buku pelajaran yang dijadikan pegangan oleh guru.

E. Masa Pembaharuan Pendidikan Islam
Setelah warisan filsafat dan ilmu pengetahuaan Islamsiterima oleh bangsa Eropa dan umat Islam sudah tidak memperhatikannya lagi maka secara berangsur-angsur telah membangkitkan kekuatan di Eropa dan menimbulakn kelemahan dikalangan umat Islam. Secara berangsur tetapi pasti. Kekuasan umat Islam ditunjukan oleh kekuasan bangsa Eropa, dan terjadilah penjajahan di mana-mana di seluruh wilayah yang pernah di kuasai oleh kekuasan Islam. Eksploitasi kekayaan dunia Islam oleh bangsa Eropa semakin memperlemah kedudukan kaum muslimin dalam segala segi kehidupannya. Sebenarnya kesadaran akan kelemahan dan ketertringgalan kaum muslimin dari bengsa Eropa dalam berbagai bidang kehidupan, telah timbul mulai abad ke 11 H/ 17 M dengan kekalahan yang diderita oleh kerajaan Turki Usmani dalam peperangan dengan Negara eropa. Mereka mulai memperhatikan kemajuan yang dicapai oleh Eropa, pertama Prancis yang merupakan pusat kemajuan Eropa pada masa itu.dan di kirim duta-duta untuk mempelajari kemajuan Eropa, terutama dibidang militer dan kemajuaan ilmu pengetahuan. 
Dalam bidang pengembengan ilmu pengetahuaan ilmu modern dari barat, untuk pertama kali dalam dumia Islam di buka suatu percetakan di istambul pada tahun 1727 M. dan juga di adakan percetakan Al-Qur’an, dan ilmu pengetahuan agama yang lainnya juga.
Penduduk Mesir oleh Napoleon Bonaparte tahun 1798 M, adalah merupakan tonggak sejarah bagi umat Islam untuk mendapatkan kembali kesadaran akan kelamahan mereka. Ekspedisi Napoleon tersebut bukan hanya menunjukan akan kelamahan umat Islam. Tetapi juga sekaligus menunjukan kebodohan mereka. Dalam ekspedisi itu Napoleon membawa sepasukan tentara dan para ilmuan dengan seperangkat peralatan ilmiah. Untuk mengadakan penelitian di Mesir.
Eksploitasi dan intervensi barat lama kalamaan menyadarkan akan keterbelakangan umat Islam. Mereka sadar kuatnya control barat terhadap mereka terhadap kemajan modern yang di miliki oleh barat. Inilah yang menyadarkan mereka dari keterbelakangan mereka dan kelemahannya. Sehingga timbul usaha pembaharuan dalam segala aspek kehidupan yang di pelopori oleh penguasa, kaum bangsawan, elit, dan intelegensia. 
1. Pola–pola Pembaharuan Pendidikan Islam
a.      Golongan yang berorientasi pada pola pendidikan modern dibarat pada dasarnya mereka berpandangan bahwa sumber kekuatan dan kesejahteraan hidup yang dialami oleh barat adalah sebagai hasil dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang mereka capai.
Perkembangan dari ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang pernah berkembang didunia Islam. Atas dasar demikian, maka untuk mengembalikan kekuatan dan kejayaan umat Islam, sumber kekuatan dan kesejahteraan tersebut harus dikuasai kembali. Dalam hal ini, usaha pembaharuan pendidikan Islam adalah dengan jalan mendirikan sekolah – sekolah dengan pola sekolah barat, baik system maupun isi pendidikannya.
Di samping itu pengiriman pelajar –pelajar kedunia barat terutama Prancis untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembaharuan pendidikan dengan pola barat ini mulanya timbuldi Turki Usmani pada akhir abad ke 11 H/17 M setelah mengalami kalah perang dengan berbagai Negara Eropa timur pada masa itu. Sultan Mahmud II ( yang memerintah di Turki Usmani 1807-1839 M), adalah pelopor pembaharuan pendidikan di Turki. Usaha pembaharuan yang dilakukan oleh Sultan Mahmud II tersebut diuraikan oleh Harun sebagai berikut: ialah perubahan dalam bidang pendidikan. Madrasah adalah merupakan satu-satunya lembaga yang ada di kerajaan Usman.
b.      Gerakan Pembaharuan Pendidikan Islam Yang Berorientasi. Pada sumber Islam yang murni, pola ini berpandangan bahwa sesungguhnya Islam itu sendiri merupakan sumber bagi kemajuan dan perkembangan peradaban dan ilmu pengaetahuan modern.
Menurut analisa mereka,diantara sebab-sebab kelemahan umat Islam adalah karena mereka tidak menjalankan perintah agama Islam secara semestinya. Pola pembaharuan ini telah dirintis oleh Mahmud Bin Andul Al Wahab, kemudian dicanangkan kembali oleh Jalalludin Al Afgani dan Muhamad Abduh (akhir abad 19 M). untuk interprestasi diperlukan ijtihad dan kerenanya pintu ijtihad harus dibuka.
Harun Nasution dalam menjelaskan pemikiran Muhammad Abduh dalam pembaharuan pendidikan di Mesir menyatakan sebagai berikut.: ia juga memikirkan sekolah – sekolah pemerintah yang telah didirikan untuk mendidik tenaga – tenaga yang perlu bagi mesir dalam lapangan administrasi militer, kesehatan, perindustrian, pendidikan dan sebagainya. Selain itu jumlah sekolah – sekolah pemerintah yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat akan kebutuhan pendidikan oleh sebab itu, golongan pembaharu memerlukan bergerak dibidang pendidikan .
Demi memperbaiki mutu pendidikan Abdulah Ahmad memasukan empat orang guru berbangsa belanda disamping dua orang Indonesia yang memiliki ijazah His pertama yang di dirikan oleh organisasi Islam. Setahun berikutnya mendapat subsidi penuh dari Gubernur. Selain itu Sultan Mahmud II juga mengirim siswa-siswa ke Eropa untuk memper dalam ilmu pengetahuan dan teknologi langsung dari sumber pengembangannya.
Muhammad Ali Pasya dalam rangka memperkuat kedudukannya dan sekaligus melaksanakan pembaharuan pendidikan di Mesir mengadakan pembaharuan dengan jalan mendirikan sekolah yang meniru system pendidikan dan pengajaran barat dengan memasukkan ilmu pengetahuan modern ke dalam Al-Azhar dan dengan memperkuat didikan agama di sekolah-sekolah pemerintah, jarang yang memisah golongan ulama dari golongan ahli ilmu modern akan dapat diperkecil.
c.   Usaha Pembaharuan Pendidikan Yang Berorientasi Pada Nasionalisme.
                  Rasa nasionalisme timbul bersamaan dengan perkembangannya pada kehidupan modern dan dimulai dari barat. Islam menghadapi kenyataan bahwa mereka terdiri dari berbagai bangsa yang berbeda latar belakang dan sejarah perkembangan kebudayaannya. Disamping itu, adanya keyakinan dikalangan pemikir pembaharuan dikalangan umat Islam, bahwa pada hakekatnya ajaran Islam bisa diterapkan dan sesuai dengan segala zaman dan tempat.

2. Tokoh dan Sasaran Pembaharuan Pendidikan Islam
            Tokoh pembaharuan pendidikan Islam bercorak modernis. Sejalan dengan pembahruan pendidikan Islam penuh dilakukan pada 3 wilayah kerajaan besar yaitu kerajaan Usmani, Mesir, India.
a). Wilayah Turki
Pembaharuan pendidikan didunia Islam dimulai dikerajaan Turki Usmani. Faktor yang melatar belakangi gerakan pembaharuan bermula dari kekalahan-kekalahan kerajaan Usmani dalam peperangan dengan Eropa.
Adapun tokoh yang mencoba melakukan upaya tersebut ialah :
  • Sultan Ahmad III. Adanya kekalahan yang dialami kerajaan Turki Usmani menyebabkan Sultan Ahmad III prihatin dan melakukan intropeksi, dengan melakukan pengiriman duta ke Eropa untuk mengamati perkembangan barat. Dengan mendirikan sekolah teknik militer, mendirikan percetakan untuk mempermudah Access buku pengetahuan. Upaya ini dilakukan sampai beliau wafat dan kemudian digantikan oleh Sultan Mahmud II.
  • Sultan Mahmud II. Sultan Mahmud II merupakan kelanjutan dari Sultan Ahmad III. Pembaharuan yang dilakukan dengan memperbaiki system pendidikan madrasah dengan memasukkan ilmu pengetahuan umum. Kemudian mendirikan model disekolah barat.
b). Wilayah Mesir
Tokoh yang melakukan upaya pembaharuan khususnya pendidikan adalah Muhammad Ali Pasya dan Muhammad Abduh
  • M. Ali Pasya. Ia mendirikan kementrian pendidikan dan lembaga pendidikan, membuka sekolah teknik , kedokteran, pertambangan, mengirin siswa untuk belajar kenegri barat. Gerakan pembaharuan memperkenalkan ilmu pengetahuan dan teknologi barat kepada umat Islam.
  • M. Abduh. Melakukan pembaharuan pendidikan di Al-Azhar dengan memasukkan ilmu modern. Mendirikan komite perbaikan administrasi Al-Azhar tahun 1895, melaksanakan pembaharuan administratif yang bermanfaat.
c). Wilayah India. 
Pembaharuan pendidikan Islam di India bertujuan menghilangkan diskriminasi pendidikan Islam tradisionalis dengan pendidikan sekuler.
Adapun yang menjadi tokoh pembaharuan di India
  • Sayyid Akhmad Khan (1817 – 1898 M). Ia berpendapat bahwa peninggkatan kedudukan umat Islam di India dapat diwujudkan dengan bekerjasama dengan Inggris. Kemudian mendirikan lembaga pendidikan, sekolah Inggris mudarabbah 1864. kemudian mendirkan pula Scientific Society, mendirikan lembaga pendidikan yang didalamnya ilmu pengetahuan umum. Itulah beberapa orang tokoh pembaharuan yang banyak mengadopsi tata cara dan pengetahuan yang datang dari barat.




3. Dualisme Sistem Pendidikan Islam
Sebagai akibat dari usaha pembaharuan pendidikan Islam dalam rangaka untuk mengjar kekurangan dan ketinggalan dari dunia barat dalam segala aspek kehidupan, maka terdapat kecendruangan adanya dualisme dalam sisten pendidikan Islam. Usaha pendidikan modern yang berorientasi pada tiga pola pemikiraan (Islam murni, barat, dan nasionalisme) yang mengambil pola system pendidikan barat dengan menyesuaikan Islam dan kepentingan nasional.
Sistem pendidikan modern, dilaksnakan pemerintah untuk memenuhi tenaga ahli untuk kepentingan pemerintah dengan menggunakan kurikulum dan mengembangkan ilmu pengetahuan modern. Sedangkan sisten pendidikan tradisional, tetep mempertahankan kurikulum tradisional yang hanya memberikan pemdidikan dan pengarahan keagamaan pada madrasah dan pondok pesantren. Dualisme dan pola pendidikan ini yang mewarnai pendidikan Islam di Negara Islam di zaman modern.
Usaha pendidikan untuk memadukan antara kedua sistem itu telah diadakan dengan jalan memasukkan kurikulum ilmu pengetahuan modern kedalam system pendidikan tradisonal yang berangsur-angsur mengarah kesistem pendidikan modern.















BAGIAN KETIGA
PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

A. Pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia
1.   Akselerasi Perkembangan Islam Pada Umumnya
            Akselerasi dan dinamika penyebaran Islam tersebut di sebabkan adanya faktor-faktor khusus yang dimiliki oleh Islam bpada periode permulaanya.faktor-faktor posotif itu antara lain ialah : Faktor ajaran Islam itu sendiri. Ajaran Islam, baik pada bidang akidah, syariahdan akhlaknya mudah di mengerti oleh semua lapisan masyarakat, dapat di amalkan secara luwes dan ringan, selalau memberikan ja;lan keluar dari pada kesulitan.
2.   Masuk Islam dan berkembangnya
            Ada dua faktor utama yang menyebabkan indonesia mudah di kenal oelh bangsa-bangsa lain. Khususnya oleh bangsa-bangsa timur tengah dan timur jauh sejak dahulu kala, yaitu:
a.   Faktor letak geografis yang strtregis, indonesia terletak di persimpangan jalan raya internasional dari jurusan timur tengah menuju tiongkok,melalui lautan dan jalan menuju benua amerika dan austeralia.
b.   Faktor kesuburan tanahnya yang menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup yang di butuhkan oleh bangsa-bangsa lain. Misalnya : rempah-rempah.

C.  Organisasi dan  Lembaga pendidikan Islam
1.   Organisasi Islam dan Pendidikan Islam di Indonesia
            Para pemimpin pergerakan nasional dengan kesadaran penuh ingin mengubah keterbelakangan rakyat      Indonesia. Mereka insaf bahwa penyelenggaraan pendidikan yang bersifat nasional harus segera dimasukkan ke dalam agenda perjuangannya. Maka lahirlah sekolah sekolah sertikelir (swasta) atas usaha para perintis kemerdekaan sekolah-sekolah itu semula memiliki dua corak, yaitu :
a)    Sesuai dengan haluan politik, seperti :
  • Taman siswa, yang mula-mula didirikan di Yogyakarta
  • Sekolah serikat Rakyat di Semarang, yang berhaluan komunis
  • Ksatrian Institut, yang didirikan oleh Drs. Douwes Dekkerr (Dr. Setiabudi) di Bandung
  • Perguruan Rakyat, di Jakarta dan Bandung.
b)    Sesuai dengan runtutan/ajaran agama Islam yaitu :
  • Sekolah-sekolah Serikat Islam
  • Sekolah-sekolah Muhammadiyah
  • Sumater tawalib di Padang Panjang
  • Sekolah-sekolah Nahdlatul Wathan
  • Sekolah-sekolah Persatuan Umat Islam (PUI)
  • Sekolah-sekolah Al-Jami’atul Wasliyah
  • Sekolah-sekolah Al-irSYAD 
  • Sekolah-sekolah Normal Islam
  • Dan masih banyak sekolah-sekolah lain yang didirikan oleh organisasi Islam maupun oleh perorangan diberbagai kawasan kepulauan Indonesia baikdalam bentuk pondok pesantren maupun Madrasah.
2.    Jenis-jenis lembaga Pendidikan Islam di Indonesia
a.    Lembaga Pendidikan Islam sebelum kemerdekaan Indonesia
Pendidikan Islam mulai damai dan berkembang pada awal abad ke-20 Masehi dengan berdirinya madrasah Islamiyah yang bersifat formal. Madrasah-madrasah yang bermunculan di Sumateri antara lain :Madrasah Adabiyah di Padang Sumatra Barat yang didirikan oleh Syeikh Abdullah Ahmad pada tahun 1909 M. Madrasaha ini berubah menjadi HIS Adabiyah pada tahun 1915 M. Pada tahun 1910 M didirikan Madrs School di daerah Batu Sangkar Sumatera Barat oleh Sykh M. Taib Umar Pada tahun 1918 M  Mahmud Yunus mendirikan Diniyah School sebagai lanjutan Madrasah School.
Adapun pondok pesantren (surau) yang pertama kali membuka madrasah formal ialah Tawalib di Padang Panjang pada tahun 1921 M di bawah pimpinan Syekh Abd. Karim Amrullah ayah Hamka. Selain daripada madrasah, juga majalah, juga majalah Islamiyah mulai diterbitkan sebagai sarana pendidikan Islam untuk masyarakat, Madrasah Juharaian oleh H. Abd. Majid pada tahun 1922 M.
 Di sumatra Timur didirikan pesantren Syekh Hasan Maksum pada tahun 1916 M. Madrasah Maslurah di Tanjungpura pada tahun 1912 Madrasah Aziziyah pada tahun 1918 M. Di Panula berdiri pesantren dan Madrasah Mustafawiyah di Purbabaru pada tahun 1913 M oleh Syekh Mustafa Husain keluaran Makkah. Di Sumatra Selatan berdiri Madrasah Al-Qur’aniyah pada tahun 1920 di Palembang oleh K.H. Moch. Yunus, Madrasah Ahliah Diniyah Oleh. K.Masagus. H.NanangMisri pada tahun 1920, Madrasah Nurul Falah oleh K.H. Abu Bakart Bastari pada tahun 1934 M dan Madrasah Darul Funun oleh K.H. Ibrahim pada tahun 1938 M.
b.   Lembaga Pendidikan Islam sesudah Indonesia Merdeka
Setelah Indonesia merdeka dan mempunyai Departemen Agama, maka secara instantional Departemen Agama diserahi kewajiban dan bertanggung jawab terhadap pembinaan dan pengembangan pendidikan agama dalam lembaga-lembaga tersebut. Lembaga pendidikan agama Islam ada yang berstatus negeri dan ada yang berstatus swasta.
            Yang berstatus negeri misalnya seperti :
  1. Madrasah Ibtidaiyah Negeri (Tingkat Dasar)
  2. Madrasah Tsawiyah Negeri (Tingkat Menengah Pertama)
  3. Madrasah Aliyah Negeri (tingkat Menengah Atas). Dahulunya berupa Sekolah Guru dan Hakim Agama (SGHA) dan Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN)
  4. Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang kemudian berubah menjadi IAIN (Institut Agama Islam Negeri)

D.    Tokoh-tokoh pendidikan Islam di Indonesia
Adapun beberapa tokoh pendidikan Islam di Indonesia:
1. Kyai Haji Ahmad Dahlan (1869 – 1923)
K.H Ahmad Dahlan dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1869 M dengan nama kecilnya Muhammad Darwis, putra dariKH.Abubakar Bin Kyai Sulaiman, Khatib di masjid besar (jami’) Kesulitan Yogyakarta, Ibunya adalah puteri Haji Ibrahim seorang penghulu.
2. Kyai Haji Hasyim Asy’ari (1871-1947)
K.H. Hasyim asy’ari dilahirkan pada tanggal 14 Februari tahun 1981 M di Jombang Jawa Timur, mula-mulai ia belajar agama Islam pada ayahnya sendiri Kyai Asy’ari Kemudian ia belajar ke pondok pesantren Purbalinggo. Kemudian pindah lagi ke Plangitan, Semarang, Madura, dan lain-lain.
Maka di bawah pimpinan KH. Ilyas dimasukkan pengetahuan umum ke dalam Madrasah Salafiyah, yaitu:
  1. Membaca dan menulis huruf latin
  2. Mempelajari bahasa Indonesia
  3. Mempelajari ilmu bumi dan sejarah Indonesia
  4. Mempelajari ilmu berhitung
Semuanya itu diajarkan dengan memakai buku-buku huruf latin.
3.    KH Abdul Halim (1887 – 1962)
KH. Abdul Halim lahir di Ciberelang, Majalengka pada tahun 1887 M. Dia adalah pelopor gerakan pembaharuan di daerah Majalenga, Jawa Barat, yang kemudian berkembnag menjadi persyerikatan Ulama, dimulai pada tahun 1911, yang kemudian berubah menjadi Persatuan Umat Islam (PUI) pada tanggal 5 April 1952 M/9 Rajab 1371H.

C. Sistem dan Isi Pendidikan Islam
Membicarakan sistem dan isi pendidikan Islam tidak bisa melepaskan diri dari perjalanan sejarah perkembangan Islam di Indonesia itu sendiri. Seperti yang sudah diuraikan pada sub-sub bab di atas bahwa penyiaran agama Islam di Indonesia sudah mulai sejak abad ke tujuh, yaiut pada zaman khalifah Utsman dan berkembang dengan berakhirnya perang salib yang menyebabkan kemunduran Dunia Islam. Oleh karena itu tersiarnya agama Islam di Indonesia diwarnai oleh dua kondisi yakni:
1.      Akibat-akibat kemunduran dunia Islam dengan jatuhnya Andalusia.
2.      Kondisi peradaban yang telah ada di Indonesia lebih dahulu yaitu peradaban Budha dan Hindu.
Kedua kondisi tersebut berhasil mengatasi kelemahan-kelemahannya, telah datang pula musuh-musuh Islam dalam perang salib di Eropa yaitu Portugis, Inggris, Spanyol kemudian belanda yang berhasil menjadikan Indonesia sebagai jajahan selama kurang lebih 350 tahun lamanya. Dampak dari perjalanan sejarah seperti tersebut diatas kendati bangsa Indonesia telah berhasil merebut dan memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. ternyata dampak tersebut masih terasa sampai sekarang ini.


1. Sistem Pendidikan Islam di Indonesia

Adapun Faktor-faktor mengapa agama Islam dapat tersebar dengan cepat diseluruh Indonesia, pada waktu itu adalah :
a.   Agama Islam tidak sempit dan tidak berat melakukan aturan-aturannya, bahkan mudah diturut oleh segala golongan ummat manusia, bahkan untuk masuk Islam cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.
b.   Sedikit tugas dan kewajiban dalam Islam.
c.   Penyiaran Islam itu dilakukan dengan berangsur-angsur, sedikit demi sedikit.
d.   Penyiaran Islam dilakukan dengan cara kebijaksanaan dan cara yang baik-baiknya.
e.   Penyiaran Islam itu dilakukan dengan cara perkataan yang mudah di pahami umum, dapat dimengerti oleh golongan bawah sampai ke golongan atas dengan sabda nabi Muhammad SAW yang maksudnya : berbicaralah kamu dengan manusia menurut kadar akal mereka.
Sistem pendidikan Islam mengalami perubahan sejalan dengan perubahannya zaman dan pergeseran kekuasaan di Indonesia. Jadi keinginan untuk membenahi, memperbaharui dan menyempurnakan sistem pendidikan Islam ini oleh dua hal :
a.            Semakin banyaknya kaum muslimin yang bisa menunaikan ibadah haji ke Makah dan belajar agama disana, maka setelah pulang kembali ketanah air Indonesia timbulah keinginan untuk mempraktekan cara-cara penyelenggaraan pendidikan pengajaran Islam seperti di Makah, yang pada waktu itu Islam mulai bangkit kembali yang diplopori oleh syekh Moch Abdul, Syekh Moch Rasyid Rida dan lain-lain.
b.            Pengaruh sistem pendidikan Barat yang mempunyai program yang lebih terkordinir dan sistematis yang ternyata telah berhasil mencetak manusia terampil dan terdidik yang semakin jauh dari ajaran Islam.

2. Isi Pendidikan Islam di Indonesia
Pada awal penyiaran agama Islam di Indonesia, maka para pengajur agama Islam menghendaki agar masyarakat, yang pada waktu itu masyarakat sudah menganut Hindu dan Budha, mau menerima agama Islam dan mau melakukan ajaran-ajaran Islam, atau mau memeluk agama Islam, oleh karena itu isi pendidikan Islam adalah pokok-pokok aqidah agama Islam dan ajaran-ajaran Islam yang mudah dipahami dan dilaksanakan.
Adapun Isi pendidikan dan pengajaran agama Islam pada tingkat permulaan ini meliputi :
a.   Belajar membaca Al-Qur`an
b.   Pelajaran dan Praktek shalat
c.   Pelajaran ketuhanan (teologis) atau ketauhidan yang pada garis besarnya berpusat pada sifat dua puluh.
Maka isi pendidikan dan pengajaran agama Islam sampai timbul sistem madrasah, baik yang diajarkan di surau-surau, langgar, masjid maupun Pondok pesantren, adalah sebagai berikut:
a. Pengajian Al-Qur`an, pelajarannya :
1.      Huruf hijaiyah dan membaca Al-Qur`an
2.      Ibadat (peraktek dan perukunan)
3.      Keimanan (Sifat Dua Puluh)
4.      Akhlak
b. Pengajian Kitab, Pelajarannya :
1.      Ilmu Shorof
2.      Ilmu Nahwu
3.      Ilmu Fiqh
4.      Ilmu Tafsir
5.      Ilmu Tauhid
6.      Ilmu Tafsir
7.      Ilmu Hadist
8.      Dan Ilmu-ilmu yang lainnya.
Adapun pelajaran yang lain sama dengan mata pelajaran disurau, hanya kitab yang digunakan tidak sama tapi pada intinya adalah sama, jadi berbeda cara namun tujuannya sama.

D. Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional Indonesia
Antara pendidikan islam dan pendidikan nasional Indonesia tak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. hal ini dapat ditelusuri dari dua segi, pertama dari konsep penyusunan system pendidikan nasional Indonesia itu sendiri, dan yang ke dua dari hakekat pendidikan Islam dalam kehidupan beragama kaum muslimin di Indonesia.
Penyusunan suatu system pendidikan nasional harus mementingkan masalah-masalah eksistensi umat manusia pada umumnya dan eksistensi bangsa Indonesia pada khususnya dalam hubunganya dengan masa lampau, masa kini dan kemungkinan-kemungkinan perkembangan masa depan.
Eksistensi bangsa Indonesia terwujud dengan proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. dimana Indonesia sebagai negara yang merdeka, bersatu dan yang berdaulat penuh. Indonesia sebagai negara yang merdeka telah dengan tegas menyatakan kepribadianya. tujuan dan pandangan hidupnya sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945. Bangsa Indonesia telah bertekad bulat untuk membangun dan mengembangkan bangsa dengan pancasila sebagai landasan ideology dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusinya.
Pancasila sebagai landasan ideologis dalam pembangunan bangsa mengandung arti bahwa setiap usaha pembangunan dan pengembangan bangsa Indonesia harus selalu menjaga keselarasan, keseimbangan dan keserasian dalam hidup manusia Indonesia sebagai pribadi, dalam hubungan manusia dengan tuhanya, dalam hubungan manusia dengan masyarakat, dalam hubungan manusia dengan alam, dan dalam hubungan bangsa dengan bangsa-bangsa lain dalam mengejar kemajuan lahiriah dan kebahagiaan rohaniah.Untuk itu maka, bangsa Indonesia harus dapat menghayati cita-cita dan dasar hidup kebangsaanya secara terus menerus.dapat mengamalkan dan mewujudkan cita-cita dan dasar hidup tersebut secara nyata, dan melestarikanya dengan mewariskan nilai-nilai moral ideologya, tata nilai budaya, nilai-nilai moral keagamaan yang menjadi sumber aspirasi yang tak ternilai harganya dalam pembangunan bangsa dan tanah air. Oleh karena itulah, maka pengembangan bangsa merupakan kriteria dasar dalam membangun satu system pendidikan nasional dengan mewujudkan keselarasan, keseimbangan dan keserasian antara pengembangan kuantitatif dan pengembangan kualitatif serta antara aspek lahiriah dan aspek rohaniah.
Dilihat dari segi hakekat pendidikan agama islam, ternyata kegiatan mendidik memang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan agam Islam baik dalam keluarga, masyarakat, lebih-lebih di pusat-pusat peribadatan seperti:langgar, surau atau masjid yang dikelola oleh seorang petugas yang sekaligus sebagai guru agama.
Di langgar atau di surau itu pendidikan terutama ditekankan pada pelajaran agama yang bersifat elementer berupa pengajian Al-Qur’an. Murid-murid diajak baik secara individual (sorogan) maupun secara semi klasikal (bandongan). Pada tingkat yang lebih tinggi pengajar adalah seorang kiai, sedangkan system penyampaianya tidak hanya sorogan dan bandongan, tetapi juga masal.
Sejarah mencatat, bahwa dengan system pendidikan islam seperti yang tersebut diatas, ditambah dengan usaha-usaha penyiaran agama di masyarakat, hasilnya sangat memuaskan dan bahkan menakjubkan. Agam Islam dapat tersebar ke seluruh pelosok tanah air Indonesia.
Di dorong oleh kebutuhan akan pendidikan yang makin meningkat, maka timbullah lembaga-lembaga pendidikan keagamaan yang berupa madrasah dan pondok pesantren. Dalam perkembangan selanjutnya, tumbuh pula lembaga pendidikan umum yang berdasarkan keagamaan, dimana di samping di berikan mata pelajaran agama juga diajarkan pengetahuan umum dan kejuruan.
Dengan adanya gerakan pembaharuan Islam dan dengan datangnya system pendidikan Barat yang program belajar mengajarnya lebih terkoordinir dan lebih sistematis, meskipun dengan tujuan yang sangat menguntungkan system pendidikan namun memberi pengaruh pula pada keharusan memperbaharui system pendidikan Islam pada madrasah, pondok pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan yang berdasar keagamaan, kearah system yang lebih sempurna.
Sejak Belanda menerapkan politik etis, maka disamping lembaga-lembaga pendidikan islam, madrasah, pondok pesantren dan lembaga pendidikan yang berdasarkan keagamaan, maka mulai muncul lembaga pendidikan yang menyelenggarakan sekolah-sekolah nasional swasta dengan menggunakan system sekolah Barat yang berorientasi demi kepentingan nasional dan semangat kebangsaan.
Demikianlah lembaga-lembaga pendidikan itu tetap tumbuh dan berkembang mendidik dan mendasarkan anak-anak sebagai generasi muda Indonesia.yang mayoritas beragama Islam menjadi manusia-manusia Indonesia yang beragama, bersatu dan berjiwa kebangsaan. Pada waktu kita memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, kita telah mempunyai lembaga-lembaga pendidikan pondok pesantren madrasah yang tersebar luas di seluruh Indonesia. sekolah umum yang berdasarkan keagamaan dan sekolah swasta yang lain yang berdasarkan kebangsaan. Lembaga-lembaga pendidikan semacam inilah yang nantinya menjadi modal dasar dan modal pokok dari pendidikan nasional yang akan disusun bangsa Indonesia yang sudah merdeka, bersatu dan berdaulat penuh.
Dari uraian diatas jelas bahwa lembaga-lembaga pendidikan khususnya lembaga-lembaga pendidikan Islam merupakan modal dasar dalam menyusun pendidikan nasional Indonesia. Bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam,maka pendidikan yang dilaksanakan oleh umat Islam di Indonesia berarti pula menjadi milik umat Islam Indonesia.Demikain pula upaya pendidikan nasionalpun pada hakekatnya adalah juga merupakan milik umat Islam Indonesia.Dan dengan demikian pendidikan Islam di Indonesia adalah merupakan pendidikan nasional,paling tidak harus merupakan satu kesatuan dalam kerangka pendidikan nasional. Apa yang dikemukakan diatas,telah dengan tegas dinyatakan oleh Komisi Pembaharuan Pendidikan Nasional bahwa pendidikan agama dilaksanakan dalam system pendidikan nasional.
Dari sejak awal Indonesia merdeka,pemerintah telah menempatkan agama sebagai pondasi dalam membangun bangsa dan negara. Hal ini dapat kita baca dalam Undang-Undang dasar 1945.Dalam pembukaan UUD 1945 alinea ketiga dinyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah semata-mata atas berkat dan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa.dan pada alinea ke empat dinyatakan bahwa Pancasila menjadi dasar Negara.
Kemudian dalam pasal 29 UUD 1945 ayat 1 dan 2 dinyatakan :
Ayat 1 : Negara berdasarkan atas ketuhanan yang Maha Esa.
Ayat 2 : Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaanya itu.
Selanjutnya eksistensi pendidikan agama sebagai komponen pendidikan nasional juga telah dituangkan dalam Undang-Undang Pokok Pendidikan dan Pengajaran No. 4 Tahun 1950,yang sampai sekarang masih berlaku,dimana dinyatakan bahwa belajar disekolah sekolah agama yang telah mendapat pengakuan dari menteri Agama dianggap telah memenuhi kewajiban belajar.

0 komentar: