Kamis, 09 Februari 2012

Psikologi Perkembangan

print this page 
Rangkuman Buku Psikologi Perkembangan
Pengarang: Desmita El-Idhami

Pengertian Psikologi Perkembangan
Psikologi perkembangan pada prinsipnya merupakan cabang dai psikologi. Psikologi sendiri merupakan sesuatu istilah yang berasal dari bahasa inggris, yaitu “psychology”. Istilah ini pada mulanya berasal dari kota dalam bahasa Yunani “psyche”. Yang berarti roh, jiwa atau daya hidup dan “logo” yang berarti ilmu. Jadi secara harfiyah “psychology” berarti ilmu jiwa.
Namun sejak dulu tidak pernah ditemui kata sepakat tentang apa yang dimaksud dengan jiwa. Sejak zaman Yunani kuno, para filosof berusaha mempelajari jiwa. Misalnya, Plato, mengatakan jiwa adalah ide. Hipocrates berpendapat jiwa adalah karakter, sedangkan Aritoteles mengartikan jiwa sebagai fungsi mengingat dan masih banyak para ahli lainnya berpendapat.

Sedangkan pengertian psikologi perkembangan itu sendiri adalah psikologi yang menitik beratkan pembahasan dan penelitian pada proses-proses dan dinamika prilaku manusia dalam berbagai tahap kehidupan. Mulai dari masa konsepsi hingga meninggal dunia. Ada beberapa definisi pengertian psikologi eperkembangan menurut para ahli yaitu sebagai berikut :
1.   David G. Myers (1996) merumuskan definisi psikologi perkembangan sebagai “ a branth of psychology that studies physica, lognitine, and social change throughout the life span”.
2. Kelvin L. Seifert dan Robert J. Hoffnung (1994), merumuskan definisi psikologi perkembangan adalah “the scientific study of how thought feelings personality, social relationchip, and body and motor skill evolve an individual grow older”.
3.  Menurut Linda L. Davidoff (1991) psikologi perkembangan adalah cabang psikologi yang mempelajari perubahan-perubahan dan perkembangan struktur jasmani, perilaku dan fungsi mental manusia yang biasanya dimulai sejak terbentuknya makhluk itu melalui pembuaian menjelang mati.
4.  Richard M. Lerner (1976) merumuskan psikologi perkembangan sebagai pengetahuan yang mempelajari persamaan dan perbedaan fungsi-fungsi psikologi sepanjang hidup. Misalnya, mempelajari bagaimana proses berpikir pada usia anak satu, dua tahun. Memiliki persamaan atau perbedaan atau bagaimana kepribadian seorang berubah dan berkembangan dari anak-anak remaja sampai dewasa.
Berdasarkan definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa psikologi perkembangan adalah cabang dari psikologi yang mempelajari secara sistematis perkembangan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam diri, baik perubahan dalam struktur jasmaniah, psilaku maupun fungsi mental manusia sepanjang rentang hidupnya yang biasanya dimuali sejak konsepsi hingga menjelang mati.

Hakikat Perkembangan
Istilah “perkembangan” (development) dalam psikologi merupakan sebuah konsep yang cukup rumit dan kompleks. Di dalamnya terkandung banyak dimensi. Oleh sebab itu, untuk dapat memahami konsep perkembangan, perlu terlebih dahulu memahami beberapa konsep lain, diantaranya: pertumbuhan, kematangan dan perubahan.

Perkembangan (development)
Secara sederhana Seifert dan Hoffnung (1994) mendefinisikan perkembangan sebagai “Long-term changes in a person’s growth feelings, patterns of thinking, social relationships, and motor skills”. Sementara itu, Chaplin (2002) mengartikan perkembangan sebagai perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam organisme dari lahir sampai mati, pertumbuhan, perubahan dalam bentuk dan dalam integrasi dari bagian-bagian jasmaniah ke dalam bagian-bagian fungsional, dan kedewasaan atau kemunculan pola-pola asasi dari tingkah laku yang tidak dipelajari.
Menurut Reni Akbar Hawadi (2001), perkembangan secara luas menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kwalitas kemampuan, sifat dan ciri-ciri yang baru. Dalam istilah perkembangan juga tercakup konsep usia yang diawali dari saat pembuahan dan berakhir dengan kematian.
Menurut F.J. Monks, dkk., (2001), pengertian perkembangan menunjuk pada “suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tidak dapat diulang kembali”. Perkembangan menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali. Perkembangan juga dapat diartikan sebagai proses yang kekal dan tetap yang menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan pertumbuhan, pematangan, dan belajar.
Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik suatu kesimpulan umum, bahwa yang dimaksud dengan perkembangan adalah perkembangan itu tidak terbatas pada pengertian pertumbuhan semakin membesar, melainkan di dalamnya juga terkandung serangkai perubahan psykis yang berlangsung terus-menerus dan bersifat tetap dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu.
1. Pertumbuhan (growth)
Dalam konsep perkembangan juga terkandung pertumbuhan. Pertumbuhan (growth) sebenarnya merupakan sebuah istilah yang lazim digunakan dalam biologi, sehingga pengertiannya lebih bersifat biologis. C.P. Chaplin (2002), mengartikan pertumbuhan sebagai satu pertambahan atau kenaikan dalam ukuran dari bagian-bagian tubuh atau dari organisme sebagai suatu keseluruhan. Menurut A.E. Sinolungan, (1997), pertumbuhan menunjuk pada perubahan kuantitatif, yaitu yang dapat dihitung atau dapat diukur, seperti panjang atau berat tubuh. Sedangkan Ahmad Thonthowi (1993), mengartikan pertumbuhan sebagai perubahan jasad yang meningkat dalam ukuran (size) sebagai akibat dari adanya perbanyakan (multiplication) sel-sel.
Dari beberapa pengertian diatas dapat dipahami bahwa istilah pertumbuhan dalam konteks perkembangan merujuk pada perubahan-perubahan yang bersifat kuantitatif. Dengan demikian, istilah “pertumbuhan” lebih cenderung menunjuk pada kemajuan fisik atau pertumbuhan tubuh yang melaju sampai pada suatu titik optimum dan kemudian menurun menuju keruntuhannya. Sedangkan “perkembangan” lebih menunjuk pada kemajuan mental atau perkembangan rohani yang melaju terus sampai akhir hayat.
2. Kematangan (maturation)
            Istilah kematangan yang dalam bahasa Inggris disebut  dengan maturation, yang sering dilawankan dengan immaturation, yang artinya tidak matang. Chaplin mengartikan sebagai :
1.      Perkembangan, proses mencapai kemasakan/usia masak,
2.      Proses perkembangan, yang dianggap berasal dari keturunan, atau merupakan tingkah laku khusus.
         Sementara itu, Davidof menggunakan istilah kematangan untuk menunjuk pada munculnya pola perilaku tertentu yang tergantung pada pertumbuhan jasmani dan kesiapan susunan syaraf. Proses kematangan  ini  juga sangat tergantung pada gen, karena pada saat terjadinya pembuahan, gen sudah memprogramkan potensi-potensi tertentu untuk perkembangan makhluk tersebut di kemudian hari.
            Jadi, kematangn itu sebenarnya merupakan suatu potensi yang dibawa individu sejak lahir, timbul dan bersatu dengan pembawaannya serta turut mengatur pola perkembangan tingkah laku individu. Kematangan terjadi pula pada aspek-aspek psikis yang meliputi keadaan berpikir, rasa, kemauan dan lain-lain, serta kematangan pada aspek psikis  dan fisik, yang tentunya diperlukan adanya latihan-latihan tertentu.
3. Perubahan (change)
            Perkembangan mengandung perubahan, tetapi bukan berarti setiap perubahan bermakna perkembangan. Berbagai perubahan dalam perkembangan bertujuan untuk memungkinkan orang menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana ia hidup. Untuk mencapai tujuan ini, maka realisasi diri itu yang biasa disebut aktualisasi diri adalah sangat penting. Tujuan dapat dianggap sebagai suatu dorongan untuk melakukan sesuatu yang tepat untuk dilakukan, untuk menjadi manusia seperti yang diinginkan baik secara fisik maupun psikologis.
Bagaimana manusia mengungkapkan dorongan ini bergantung pada kemampuan-kemampuan bawaan dan latihan yang diperoleh tidak hanya selama masa kanak-kanak tetapi juga saat usianya meningkat dan sampai pada saat ia menjumpai tekanan-tekanan yang lebih besar untuk menyesusaikan diri dengan harapan-harapan masyarakat.
Realisasi diri memainkan peranan penting  dalam kesehatan jiwa, maka orang yang berhasil menyesuaikan diri dengan baik secara pribadi dan sosial, harus mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan minat dan keinginannya dengan cara yang memuaskan dirinya. Tetapi pada saat yang sama harus menyesuaikan dengan standar-standar yang diterima. Kurangnya  kesempatan-kesempatan ini akan menimbulkan kekecewaan dan sikap-sikap negatif pada umumnya terhadap orang lain, dan terhadap kehidupan pada umumnya.

Tujuan Psikologi Perkembangan
Menurut Mussen, Conger dan Kagan (1969) dewasa ini psikologi perkembangan lebih menitik beratkan pada usaha-usaha mengetahui sebab-sebab yang melandasi terjadinya pertumbuhan dan perkembangan manusia, sehingga menimbulkan perubahan-perubahan. oleh sebab itu tujuan psikologi perkembangan meliputi:
  1. Memberikan, Mengukur dan menerangkan perubahan dalam tingkah laku serta kemapuan yang sedang berkembang sesuaidengan tingkat umur dan yang mempunyai ciri-ciri universal, dalam arti yang berlaku bagi anak-anak dimana saja dan dalam lingkungan sosial budaya mana saja.
  2. Mempelajari perbedaan-perbedaan yang bersifat pribadi pada tahapan atau masa perkembangan tertentu.
  3. Mempelajari tingkah laku anak pada lingkungan tertentu yang menimbulkan reaksi yang berbeda.
  4. Mempelajari penyimpangan dari tingkah laku yang dialami seseorang, seperti kenakalan-kenakalan, kelainan-kelainan dalam fungsionalitas inteleknya, dan lain-lain
Sementara itu menurut Elizabeth B.Hurlock (1980) menyebutkan 6 tujuan psikologi perkembangan dewasa ini, yaitu :
  1. Menemukan perubahan-perubahan apakah yang terjadi pada usia yang umum dan yang khas dalam penampilan, prilaku, minat, dan tujuan dari masing-masing periode perkembangan.
  2. Menemukan kapan perubahan-perubahan itu terjadi.
  3. Menemukan sebab-sebabnya.
  4. Menemukan bagaimana perubahan itu mempengaruhi prilaku.
  5. Menemukan dapat atau tidaknya perubahan-perubahan itu diramalkan.
  6. Menemukan apakah perubahan itu bersifat individual atau universal.
Manfaat Psikologi Perkembangan
            Sebagai mana kita ketahui bahwa psikologi perkembangan adalah ilmu yang mempelajari tentang perkembangan tingkah laku manusia. Maka Elizabeth B. Hurlock (1980) menyebutkan beberapa kegunaan mempelajari psikologi perkembangan yaitu :
a.    Membantu kita mengetahui apa yang diharapkan dari anak dan kapan yang diharapkan itu muncul. Ini adalah penting, karena jika terlalu banyak yang diharapkan pada anak usia tertentu, anak mungkin akan mengembangkan perasaan tidak mampu bila ia tidak mencapai standar yang ditetapkan orang tua atau guru. Sebaliknya, jika terlalu sedikit yang diharapkan dari mereka, maka mereka akan kehilangan rangsangan untuk lebih mengembangkan kemampuannya. Disamping itu ia juga akan merasa tidak senang terhadap orang yang menilai rendah kemampuan mereka.
b.  Pengetahuan tentang perkembangan memungkinkan para orang tua dan guru memberi bimbingan belajar yang tepat pada anak. Bayi yang siap untuk belajar misalnya dapat diberikan kesempatan untuk melakukan dan dorongan untuk tetap berusaha hingga kepandaian berjalan dapat dikuasai. Tidak adanya kesempatan dan dorongan akan menghambat perkembangan yang normal.
c.     Dengan mengetahui pola normal perkembangan memungkinkan para orang tua dan guru untuk sebelumnya mempersiapkan anak menghadapi perubahan yang akan terjadi pada tubuh, perhatian dan perilakunya.

TEORI DAN METODE PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

Teori-teori Psikologi Perkembangan
       Dalam memahami perkembangan manusia, teori mempunyai peranan yang sangat penting. Teori dapat membantu kita memahami gejala-gejala dan embuat ramalan tentang bagaimana kita berkembang serta bagaimana berperilaku. Setidak-tidaknya ada dua peranan dari teori perkembangan (Miller 1993) yaitu:
a.         mengorganisir dan memberi makna terhadap fakta atau gejala perkembangan.
b.        Membrikan pedoman dalam melakukan penelitian dan menghasilkan informasi yang baru.
            Beberapa teori perkembangan yang umum dibahas dalam literatur psikologi perkembangan diantaranya: Teori Psikodinamik, kognitid, teori konstektual serta teori behavior dan belajar social
1. Teori Psikodinamik
Adalah teori yang berupaya menjelaskan hakikat perkembangan kepribadian, unsur-unsur yang sangat diutamakan dalam teori ini adalah motivasi, emosi dan aspek-aspek internal lainnya. Teori ini mengasumsikan bahwa kwpribadian berkembang ketika terjadi konflik-konflik dari aspek-aspek psikologis tersebut, yang umumnya terjadi pada masa kanak-kanak dini. Tokoh teori ini adalah Sigmund Freud dan Erik erikson.
Menurut Freud teori ini psikodinamik berfokus pada masalah alam bawah sadar, sebagai salah satu aspek kepribadian seseorang. Aspek kepribadian manusia memiliki 3 struktur penting, yaitu :
a.    Id, merupakan sturktur kepribadian yang asli yang berisi segala sesuatu yang secara psikologis telah ada sejak lahir, termasuk insting. Id merupakan reservoir energy psikis dan menyediakan seluruh daya untuk menggerakan kedua sruktur kepribadian lainnya.
b.    Ego, merupakan srtuktur kepribadian yang berurusan dengan dengan tuntuntan realitas.
       Perbedaan pokok antara id dan ego adalah bahwa id hanya mengenal realitas subjektif jiwa, sedangkan ego membedakan antara hal-hal yang terdapat dalam batin dan hal-hal yang terdapat di dunia luar.
c.  Superego, merupakan struktur kepribadian yang merupakan badan moral lepribadian. Perhatian utamanya adalah memutuskan apakah sesuatu itu benar atau salah, sehingga ia dapat bertindak sesuai dengan norma-norma moral yang diakui masyarakat. Tetapi superego sama seperti id yang bersifat tidak rasional, dan sama seperti ego, superego tidak hanya menunda pemuasan insting, tetapi tetap berusaha untuk merintanginya.
Ketiga komponen kepribadian tersebut berkembang melalui tahap-tahap perkembangan psikoseksual, karena menunjukan bahwaproses perkembangan psikologis ditandai dengan libido (energy seksual) yang dipusatkan pada daerah-daerah tubuh tertentu yang berbeda-beda.
Tahap-tahap Perkembangan psikoseksual menurut Freud antara lain :
a.    Oral (0-1 tahun)
b.    Anal (1-3 tahun)
c.    Phalic (3-6 tahun)
d.    Latency (6-12 tahun)
e.    Dewasa (12- dewasa)
2. Teori Kognitif
Teori kognitif didasarkan pada asumsi bahwa kemepuan kognitif merupakan sesuatu yang fundamental dan yang membimbing tingkah laku anak. Denagn kemampuan kognitif ini, maka anak dipandang sebagai individu yang secara aktif membangun sendiri pengetahuan mereka tentang dunia.
a.    Teori kognitif Piaget
Adalah salah satu teori yang menjelaskan bagaimana anak beradaptasi dengan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejaidn disekitarnya. Bagaimana anak mempelajari cirri-ciri dan fungsi dari objek-objek, bagaimana cara anak belajar mengelompok-mengelompokan obejek untuk mengetahui persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya, untuk memahami penyebab terjadinya perubahan dalam objek-objek atau peristiwa-peristiwa dan untuk membentuk perkiraan tentang objek dan peristiwa tersebut.
Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:
·      Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
·      Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
·      Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
·      Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
Sehingga dalam pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses perolehan pengetahuan tersebut. Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi lingkungan, informasi yang baru didapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau mengganti skema yang sebelumnya ada, seperti :
Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya.
Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali.
b. Teori Pemrosesan Informasi
Merupakan teori alternative terhadap teori kognitif Piaget. Para pakar psikologi pemrosesan informasi tidak menggambarkan perkembangan dalam tahap-tahap atau serangkaian subtahap tertentu, dan menekankan pentingnya proses-proses kognitif, seperti persepsi, seleksi perhatian, memori dan strategi kognitif.
Teori ini didasrkan pada tiga asumsi umum :
a.    Pikiran dipandang sebagai suatu sistem penyimpanan dan pengembalian informasi.
b.    Individu-individu memproses informasi dari lingkungan.
c.    Terdapat keterbatasan pada kapasitas untuk memproses informasi dari seseorang individu.
Berdasar asumsi-asumsi di atas, dapat dipahami bahwa teori pemrosesan informasi lebih menekankan pada bagaimana individu memperoleh informasi tentang dunia mereka bagaimana informasi disimpan dan disebarkan dan sebagaimana informasi diambil kembali untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas yang kompleks, seperti memecahkan masalah dan berfikir.
3. Teori Kontekstual
Teori ini memandang perkembangan sebagai proses yang terbentuk dari transaksi timbal balik antara anak dan konteks perkembangan sistem fisik, sosial, kurtural dan historis dimana interaksi tersebut terjadfi (Seifert & Hoffnung, 1994).
4. Teori Etologis
Etologi merupakan studi tentang perkembangan perilaku evolusi spesies dalam lingkungan alamiahnya. Teori etologi mengenai perkembanagn menekankan bahwa perilaku sangat dipengaruhi oleh biologi, terkait deengan evolusi, dan ditandai oleh periode-periode kritis (Santrock,1998).
5. Teori Ekologis
Teori ekologis memberikan tekanan pada sistem lingkungan. Tokoh utama teori ini adalah Urie Brofenbrenner. Pendekatan teoriekologis terhadap perkembangan mengajukan konteks di mana berlangsung perkembanagn individu, baik kognitifnya, sosioemosional, kapasitas dan karakteristik motivasional, maupun partisipasi aktifnya, merupakan unsure-unsur penting bagi perubahan perkembangan ( Seifert & Hoffnung, 1994).
6. Teori Behavior dan Belajar Sosial
Behavior (perilaku) adalah kegiatan organism yang diamati dan bersifat umum, mengenai otot-otot dan kelenjar-kelenjar sekresi eksternal sebagaimana terwujud pada gerakan bagian-bagian tubuh atau pada pengeluaran air mata, keringat. Teori ini menegaskan bahwa dalam mempelajari manusia individu, yang seharusnya dilakukan oleh para ahli psikologi adalah menguji dan mengamati perilakunya dan bukan mengamati kegiatan bagian dalam tubuh.
7. Pavlov dan Kondisioning Klasik
            Classic Conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, di mana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan. Urutan kejadian melalui percobaan terhadap anjing :
1.      US (unconditioned stimulus) = stimulus asli atau netral: Stimulus tidak dikondisikan yaitu stimulus yang langsung menimbulkan respon, misalnya daging dapat merangsang anjing untuk mengeluarkan air liur.
2.      UR (unconditioned respons): disebut perilaku responden (respondent behavior) respon tak bersyarat, yaitu respon yang muncul dengan hadirnya US, yaitu air liur anjing keluar karen anjing melihat daging.
3.      CS (conditioning stimulus): stimulus bersyarat, yaitu stimulus yang tidak dapat langsung menimbulkan respon. Agar dapat menimbulkan respon perlu dipasangkan dengan US secara terus-menerus agar menimbulkan respon. Misalnya bunyi bel akan menyebabkan anjing mengeluarkan air liur jika selalu dipasangkan dengan daging.
4.      CR (conditioning respons): respons bersyarat, yaitu rerspon yang muncul dengan hadirnya CS, Misalnya: air liur anjing keluar karena anjing mendengar bel.
            Dari eksperimen Pavlov setelah pengkondisian atau pembiasan dapat diketahui bahwa daging yang menjadi stimulus alami (UCS = Unconditional Stimulus = Stimulus yang tidak dikondisikan) dapat digantikan oleh bunyi lonceng sebagai stimulus yang dikondisikan (CS = Conditional Stimulus = Stimulus yang dikondisikan). Ketika lonceng dibunyikan ternyata air liur anjing keluar sebagai respon yang dikondisikan. Dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.
8. B.f. Skinner dan Kondisioning Operant
Skinner mengembangkan teori kondisioning dengan menggunakan tikus sebagai kelinci percobaan. Dari hasil percobaannya Skinner membedakan respon menjadi dua, ialah respon yang timbul dari stimulus tertentu dan operant (instrumental) respons yang timbul dan berkembang karena diikuti oleh perangsang tertentu. Oleh karena itu, teori Skinner ini dikenal dengan operant conditioning.
Seperti halnya Thordike, Skinner menganggap “reward” atau “reinforcement” sebagai faktor terpenting dalam proses belajar. Skinner berpendapat, bahwa tujuan psikologi adalah meramal dan mengontrol tingkah laku. Skinner membagi dua jenis respon dalam proses belajar, yakni :
(1). Responsents : respon yang terjadi karena stimulus khusus misalnya Pavlov
(2). Operants : respon yang terjadi karena situasi random
            Perbedaan penting antara Pavlov’s classkal conditioning dan Skinner’s operant conditioning ialah dalam classikal conditioning, akibat-akibat suatu tingkah laku itu. Reinforcement tidak diperlakukan karena stimulusnya menimbulkan respon yang diinginkan.
            Operant conditioning, suatu situasi belajar dimana suatu respons dibuat lebih kuat akibat reinforcement langsung.
Dalam percobaannya terhadap tikus-tikus dalam sangkar, digunakan suatu “diskriminative stimulus” (tanda untuk memperkuat respons) misalnya tombol, lampu, pemindah makanan. Disamping itu, digunakan pula suatu “reinforcemen stimulus, berupa makanan”.
Dalam pengajaran, operants conditioning menjamin respon-respon terhadap stimulus. Apabila murid tidak menunjukkan reaksi-reaksi terhadap stimulus guru tak mungkin dapat membimbing tingkah lakunya ke arah tujuan behavior. Guru berperan penting di dalam kelas untuk mengontrol dan mengarahkan kegiatan belajar ke arah tercapainya tujuan yang telah dirumuskan.
Jenis-jenis stimulus :
(1) Positive reinforcement : Penyajian stimulus yang meningkatkan probabilitas suatu respon
(2)   Negative reinforcement : Pembatasan stimulus yang tidak menyenangkan, yang jika dihentikan akan mengakibatkan probabilitas respon
(3) Hukuman : pemberian stimulus yang tidak menyenangkan misalnya : “Contradiction”. Bentuk hukuman lain berupa penangguhan stimulus yang menyenangkan (removing adalah pleasant or reinforcing stimulus).
(4)   Primary reinforcement : stimulus pemenuhan kebutuhan-kebutuhan fisiologis
(5) Modifikasi tingkah laku guru : Perlakuan guru terhadap murid-murid berdasarkan minat dan kesenangan mereka.
9. Bandura dan Teori Belajar Sosial
            Untuk menjelaskan bagaimana prilaku sosial belajar anak, bandura menggunakan prinsip-prinsip pengkondisian klasik dan pengkondisian operan. Bandura yakin bahwa anak tidak hanya belajar melalui pengalamannya tetapi juga melalui pengamatan, yakni mengamati apa yang dilakukan oleh orang lain. Melalui belajar mengamati, yang disebut juga modeling atau imitasi, individu secara kognitif menampilkan tingkah laku orang lain dan kemudian barangkali mengadopsi tingkah laku tersebut dalam dirinya sendiri. Mode belajar baru yang dikembangkan Bandura meliputi tingkah laku, pribadi (kognisi), dan lingkungan.
            Hubungan timbal balik antara prilaku, pengaruh lingkungan dan kognisi adalah factor kunci dalam memahami bagaimana individu belajar. Faktor-faktor prilaku, kognitif dan pribadi lainnya, serta pengaruh lingkungan, bekerja secara interaktif. Prilaku dapat mempengaruhi kognisi dan sebaliknya kegiatan kognitif seseorang dapat mempengaruhi lingkungan, pengaruh lingkungan dapat mengubah proses pemikiran seseorang dan seterusnya.

PERKEMBANGAN MASA PRENATAL DAN KELAHIRAN

Konsepsi dan Awal Kehidupan
Periode prenatal atau masa sebelum lahir adalah periode awal perkembangan manusia yang di mulai sejak konsepsi, Yakni ketika ovum wanita dibuahi oleh sperma laki-laki sampai dengan waktu kelahiran seorang individu. Masa ini pada umumnya berlangsung selama 9 bulan kalender atau sekitar 280 hari sebelum lahir di lihat dari segi waktunya, Periode prenatal ini merupakan periode perkembangan manusia paling singkat. Tetapi justru inilah di pandang terjadi perkembangan yang sangat cepat dalam diri individu.
Pada masa-masa awal penelitian ilmiah tentang perkembangan anak yang dilakukan oleh para ahli psikolog (Barat) perkembangan individu pada masa prenatal ini kurang mendapatkan perhatian bahkan cenderung di abaikan. Pada masa awal ini penelitian-penelitan yang dilakukan oleh sebagian ahli psikologi (Barat) cenderung dimulai dari periode bayi yang baru lahir dan mengabaikan periode pralahir. Hal ini adalah karena mereka menganggap bahwa perkembangan fisik, Dan karenanya memberi sedikit sumbangan bagi pemahaman psikologis tentang perkembangan.
Kemudian baru pada pertengahan tahun 1970 muncul kesadaran bahwa mengetahui segala kejadian pada masa prenatal sangat penting untuk dapat memahami secara utuh pola perkembangan yang normal. Bahkan belakangan ini penelitian ilmiah telah menunjukkan fakta bahwa terdapat sejumlah pola perkembangan penting yang terjadi pada periode prenatal.
Prenatal ini bukan saja merupakan periode khusus dalam rentang hidup manusia tetapi merupakan periode yang sangat menentukan. (Huclock, 1980)
Jauh sebelum adanya perhatian dan pengakuan dari kalangan psikolog barat. Terhadap perkembangan individu pada masa prenatal ini. Psikolog timur, Terutama psikolog islam telah lebih dulu meempatkan masa prenatal ini sebagai periode awal perkembangan individu. Selama masa prenatal ini individu tidak hanya mengalami perkembangan fisik melainkan sekaligua mengalami perkembangan psikologis. Dewasa ini para ahli psikologi perkembangan menyakinibahwa kehidupan manusia berawal dari sel sperma laki-laki dan sel telur wanita. Pada saat itu sel sperma laki-laki bergabung dengan sel telur wanita (ovum) dan menghasilkan satu bentuk sel yang telah terbuahi yang di sebut zigot. Yang dalam psikologis islam di sebut Nutpah yaitu air mani.
Dengan demikian dapat di pahami bahwa sel-sel sperma pria dan sel-sel telur (ovum) wanita pada dasarya memiliki daya hidup atau energi kehidupan yang dalam psikologi islam di sebut hayat. Karena adanya daya tahan hidup ini pula lah yang membuat janin dalam kandungan dapat menjadi individu baru.
Semua ini memkuat anggapan yang menyatakan bahwa perkembangan dan kehidupan manusia di mulai dari masa prenatal yakni sejak terjadinya pembuahan sl telur (ovum) Wanita oleh oleh sel sperma laki-laki dan bentuknya zigot.

Tahap-Tahap Perkembangan Masa Prenatal
Pada umumnya ahli psikologi perkembangan membagi masa prenatal atas 3 periode :
        1. Tahap Germinal (Germinal Stage)
Tahap germinal, Yang sering juga disebut periode zigot. Ovum atau periode nutfah. Adalah periode awal kejadian manusia. Periode germinal ini biasanya berlansung kira-kira 2 minggu pertama dari kehidupan. Yakni sejak terjadinya pertemuan antara sel sperma laki-laki dengan sel telur (Ovum) wanita yang dinamakan dengan pembuahan (Fertilization) periode dari ovum, berjalan sejak konsepsi sampai akhir minggu ke 2.
Ovum yang telah dibuahi namanya zigotezigut ini membagi-bagi diri sehingga terdiri dari banyak sel-sel. Ada yang menjadi lapisan luar nanti akan berkembang menjadi jaringan-jaringan yang melindungi dan memberi makanan pada individu selama dalam masa prenatal. Dan bagian dalam dari sel menjadi embiyo. Periode ini berarti karena 2 hal.
1.      Ovum dapat mati sebelum melekat pada dinding uterus, misalnya karna kurang mendapat makanan.
2.      Implantasi mungkin tidak terjadi dan zygote akan terbawa keluar dengan mensturasi.
3.      Kemudian zigot membelah menjadi sel-sel yang berbentuk bulatan-bulatan yang disebut Blas Tukis.
Blastakis yang berisikann cairan, dengan cepat mengalami sejumlah perubahan. Dalam waktu singkat sel-sel blustukis akan terbentuk plasenta, tali pusat, sistem pencernaan dan sebagainya. Setelah beberapa hari kira-kira seminggu setelah konsepsi blastakis menempel di dinding rahim. Blastakis yang tertanam di dinding rahim inilah yang disebut embrio. Dan peristiwa ini sekaligus manundukkan akhir dari tahap germinal dan permulaan tahap embrio.
        2. Tahap Embrio (Embriyonic stage)
Tahap yang kedua dari periode prenatal disebut tahap embrio. Yang dalam psikologi islam disebut Alaqoh, Yaitu segumpalan darah yang semakin membeku. Tahap embrio ini dimulai dari 2 - 8 minggu setelah pembuahan, yang di tandai dengan tejadinya banyak perubahan pada semua organ utama dan sistem fisiologis. Tetapi karena ukuran panjangnya hanya sekitar 1 inci, Maka bagian tubuh embrio itu belum sepenuhnya berbentuk tubuh orang dewasa. Meskipun demikian ia sudah terlihat jelas dan dapat di kenali sebagai manusia dalam bentuk kecil.
Selama periode embrio ini pertumbuhan terjadi dalam dua pola, Yaitu Cephalocaudal dan Proxi modistal. Di Samping itu, Dalam periode embrio ini terdapat tiga sarana penting yang memantu perkembangan struktur anak. Yaitu kantong Amniatik, Plasenta, Tali pusar.
Periode embriode ini juga ditandai dengan suatu perkembangan yang cepat pada sistem sarap. Hal ini terlihat bahwa umur 6 minggu embrio telah dapat di kenali sebagai manusia. Umur 8-9 Minggu perubahan janin semakin terlihat dengan jelas.
Arti dari pada pariode ini :
a.       Pada akhir periode ini individu sudah merupakan manusia, Oleh karena semua alat, Kelenjar dan lain sebagainya sudah mulai berkembang.
b.      Dalam periode ini banyak kemungkinan adanya keguguran hal ini dapat di sebabkan oleh karena ibu mengalami Sock emosional, Jatuh, Kurang makan, Kurang baik bekerjanya kelenjar-kelenjar tertentu dari ibu yang menyebabkan embrio terlepas dari dinding rahim.
3.      Tahap Janin
Periode ketiga dari perkembangan masa prenatal di sebut periode fetus atau periode janin, Yang dalam fsikologi Islam disebut periode Mudghoh periode ini di mulai dari 9 minggu sampai lahir.
Setelah 8 minggu kehamilan, Embrio berkembang menjadi sel-sel tulang dalam hal ini embrio memperoleh suatu nama baru yaitu janin (Fetus). Dalam periode ini cirri-ciri fisik orang dewasa secara lebih proporsional mulai terlhat. Menurut psikologi islam setelah jain dalam kandungan genap berusia 4 bulan, Yaitu ketika janin telah berbentuk sebagai manusa maka di tiupkan ruh ke dalam jann tersebut juga ditentukan hukum perkembagan seperti masalah yang berhubungan dengan tingkah laku (Sifat, karakter, dan bakat), Kekayaan batas usia. Riset baru menunjukkan bahwa janin juga telah mampu mendegarkan atau responsive terhadap stimulasi dari lingkungan eksternal. Terutama sekali terhadap pola-pola suara. Jadi bayi yang baru lahir menunjukkan suatu pilihan yang jelas berdasarkan pada pengalamannya selama masa prenatal (Docasper dan Spence, 1986)

      Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Prenatal
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa periode prenatal merupakan periode yang sangat penting dan menentukan perkembangan individu pada periode berikutnya selama periode prenatal ini rahim merupakan lingkungan yang sangat menentukan perkembangn janin. Pda umumnya, Kondisi rahim ibu itu sangat nyaman bagi janin dan terlindung dari setiap gangguan tetapi hal ini tidak berarti bahwa janin tersebut secara absolute luput dari pengaruh-pengaruh luar. (Santiock,1995).
Sebagian besar proses pertumbuhan ibu sangat bargantung pada bkondisi internal ibu baik kondisi fisik maupun psikisnya. Sebab ibu dan janin merupakan satu uniza organik yang tunggal. Semua kebutuhan ibu dan janin di penuhi melalui proses fisiologis yang sama. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan prenatal:
1.      Makanan
2.      Penyakit/ Kesehatan ibu
3.      alcohol
4.      Tembakau
5.      Pengalaman-pengalaman emosional ibu
6.      Gizi ibu
7.      Pemakaian bahan-bahan kimia oleh ibu
     
      Tahap-tahap Kelahiran
Studi fisiologis tentang kelahiran relative baru di bandingkan dengan studi medis. Studi psikologis tentang kelahiran lebih difokuskan pada bagaimana pengaruhnya, Terhadap perkembangan pasca lahir, dan sejumlah faktor lain yang mempengaruhi perkembangan sebelum dan sesudah lahir.
a.   Para ahli psikologi perkembangan membagi proses kelahiran dalam tiga tahap, Yaitu :
1.      Terjadi kontraksi peranakan yang berlangsung 15 hingga 20 menit pada permulaan dan berakhir hingga 1 menit
2.      Dimulai ketika kepala bayi bergerak melalui leher rahim dan saluran kelahiran. Tahap ini barakhir ketika bayi benar-benar keluar dari tubuh ibu. Tahap ini berlangsung kira-kira 1,5 jam.
3.      Setelah bayi lahir pada waktu ini ari-ari tali pusar dan selaput lain dilepaskan dan di buang. Tahap akhir inilah yang paling pentdek yang berlangsung hanya beberapa hanya beberapa menit saja.
      b. Pengaruh perkembangan terhadap pasca lahir
Studi fisiologis dan medis telah menunjkkan beberapa kondisi yang mnimbulkan pengaruh kelahiran terhadap perkembangan pasca lahir, Diantaranya adalah :
a.       Jenis kelahiran
b.      Pengobatan ibu
c.       Lingkungan pra lahir
d.      Jangka waktu periode kehamilan
e.       Perawatan pasca lahir
f.        Sikap orang tua

PERKEMBANGAN MASA BAYI

Petumbuhan Masa Bayi
            Umumnya ahli psikologi perkembangan membatasi periode masa bayi pada 2 tahun pertama dari periode pascanatal. Masa bayi ini disebut juga sebagai periode vital, karena kondisi fisik dan psikologi bayi merupakan fondasi yang kokoh bagi perkembangan dan pertumbuhan selanjutnya.

Pertumbuhan Fisik
            Selama 2 tahun pertaman kehidupan fisik bayi berlangsung sangat ektensif. Pada saat lahir, bayi memilki kepala yang sangat besar dibandingkan dengan bagian tubh lain. Uraia berikut akan memberikan gambaran lebih rinci tentang beberapa apek dari pertumbuhan fisik yang terjadi selama masa bayi.

Tinggi dan Berat Badan
            Pada saat dilahirkan, panjang rata-rata bayi adalah 20 inci atau 50 cm, dengan berat 3,4 kg, dibandingkan dengan ukuran tubuh orang dewasa, panjang tubuh bayi lebih dekat dari pada beratnya: panjang bayi yang 20 inci menunjukkan lebih dari satu perempat tinggi orang dewasa, sedangkan 3,4 kg beratnya menunjukkan hanya sebagian kecil dari berat badan orang dewasa (Seifert & Hoffnung, 1994).Segera setelah bayi menyesuaikan diri dengan kegiatan makan melalui cara menghisap, menelan, dan mencerna, fisiknya bertumbuh dengan cepat.

Perkembangan Refleks
            Pada masa bayi, terlihat gerakan-gerakan spontan, yang disebut “reflex”. Reflex adalah gerakan-gerakan bayi yang bersifat otomatis dan tidak terkoordinir sebagai reaksi terhadap rangsangan tertentu serta member bayi respons penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Sepanjang bulan pertama kehidupannya, kebanyakan reflex menghilang atau menyatukan dengan gerakan yang relative disengaja atau penuh arti. Ketika mereka menguasai kemampuan ini, maka ai disebut “skill” atu keterampilan. Reflex dan skill disebut juga kemampuan motorik (motor abilities).

Perkembangan Keterampilan Motorik
            Keterampilan motorik adalah gerakan-gerakan tubuh atau bagian-bagian tubuh yang disengaja, otomatis, cepat dan akurat. Gerakan-gerakan ini merupakan rangkaian koordinasi dari berates-ratus otot yang rumit dan bagian-bagian badan yang terkait, yaitu keterampilan motorik kasar (gross motor skill) dan keterampilan motorik halus (fine motor skill).

Keterampilan Motorik Kasar
            Keterampilan motorik kasar (gross motor skill), meliputi keterampilan otot-otot besar lengan,kaki,dan batang tubuh,seperti berjalan dan melompat.
            Perkembangan Ketrampilan Motorik Selama Masa Bayi
- Usia 1 bulan:Mengkat dagu sampai tengkurap
- Usia 2 bulan:Mengkat dada sampai tengkurap
- Usia 4 bulan:Duduk dengan bantuan
- Usia 7 bulan:Duduk tanpa batuan
- Usia 8 bulan:Berdiri dengan bantuan
- Usia 9 bulan:Berdiri berpegang pada perabot
- Usia 10 bulan:Merangkak
- Usia 11 bulan:Berjalan dengan dibimbing
- Usia 12 bulan:Berjalan berdiri sendiri
- Usia 13 bulan:Naik tangga
- Usia 14 bulan:Berdiri sendiri
- Usia 15 bulan:Berjalan
- Usia 18 bulan:Naik turun tangga tanpa bantuan
- Usia 24 bulan:Dapat lari dan berjalan mundur


Ketrampilan Motorik Halus
            Ketrampilan motori harus meliputi otot-otot kecil yang ada diseluruh tubuh,seperti menyentuh dan memegang bayi dilahirkan dengan seperangkat komonen penting yang kelak akan menjadi gerakan-gerakan lengan,tangan dan jari yang terkoordinir dengan baik.Meskipun demikian,pada saat baru lahir bayi masih mengalami kesulitan dalam mengontol ketraplan motorik halusnya.
            Bayi yang baru lahir dengan serta mereka akan meraih dan menggenggam objek-ojbek yang dapat mereka lihat dihadapinnya.Tetapi seperti yang mungkin kita perkirakan,mereka sering gagal untuk menggeggam objek-objek tersebut.Mereka sering meyetuh objek tersebut,tetapi gagal untuk memasukan kedalam genggamannya.

Perkembangan Sensor
            Bayi yang baru lahir telah dilengkapi dengan peralatan yang dirancang sedemikian rupa untuk mengumpulkan informasi. Alat yang berfungsi untuk menangkap informasi inilah yang disebut dengan indra (sense) atau system sensorik. Jadi, semua informasi yang datang kepada bayi adalah melalui indra. Tanpa penglihatan, pendengaran, sentuhan, kecapan, penciuman dan indra lain, otak bayi akan terkucil dari dunia, bayi akan hidup dalam kebisuan, kegelapan, tanpa rasa, tanpa warna dan kehampaan yang kekal.
            Dengan demkian indra-indra berfungsi mendeteksi, mentransduksi dan meneruskan semua informasi yang datang padanya. Setiap indra mempunyai satu unsur deteksi yang disebut sebagai reseptor (penerima), yaitu satu sel yang secara khusus hanya memberikn respon terhadap jenis rangsangan yang tertentu saja (Davidoff, 1988). Sensasi (pengindraan) terjadi ketika sekumpulan informasi mengadakan kontak dengan penerima sensor, seperti mata, telinga, lidah, hidung dan kulit.



Perkembangan Otak
            Pada waktu bayi masih berada dalam kandungan ibunya, badannya telah membentuk sekitar 1,5 milyar sel-sel syaraf per menit. Jadi, pada saat dilahirkan bayi kemungkinan telah memiliki semua sel-sel otak yang akan dimiliki selama hidupnya. Akan tetapi, sel-sel otak tersebut belum matang dan jaringan urat syaraf masih lemah. Oleh sebab itu, segera setelah lahir hingga usia 2 tahun sel-sel otak yang belum matang dan jaringan urat syaraf yang masih lemah itu terus bertumbuh dengan cepet dan dramatis mencapai kematangan, seiring dengan pertumbuhan fisiknya. Pada saat lahir, berat otak bayi seperdelapan dari berat totalnya atau sekitar 25% dari berat otak dewasanya (Myer, 1996, Zigler & Stevenson, 1993)

Perkembanga Gerakan
1.   Bangkit untuk berdiri dan bangkit lali duduk kembali.
            Untuk melatihnya, dudukkan bayi di permukaan seperti lantai atau kasur, dan biarkan ia mencoba sendiri untuk berdiri atau bangkit untuk kemudian duduk sendiri.
2.   Mulai mampu memanjat ketinggian 15-30 cm
            Dudukkan bayi di lantai dan beri mainan yang disukainya. Ambil mainan tersebut dan letakkan di tempat yang lebih tinggi. Usahakan ia melihat mainan tersebut dipindahkan dan katakan “Ambil nak”, sambil menepuk-nepuk tempat tersebut. Anak akan berusaha meraih mainan tersebut dengan merambat, lalu memanjat tempat tinggi tersebut. Dampingi anak dari belakang sambil beri dorongan. Jika ia menemukan kesulitan bantu dengan mendorong pantatnya.
3.   Mulai dapat berjalan walau masih 2-3 langkah dan kemudian jatuh terduduk karena             keseimbangan belum sempurna. Ketika sudah mulai berjalan, langkah si kecil masih limbung.
4.      Sudah dapat berjalan.
            Kadang-kadang walaupun sudah dapat berjalan si kecil masih suka merangkak, karena aktivitas ini berlangsung lebih cepat, apalagi jika ia menginginkan suatu benda yang jauh untuk dijangkaunya. Ajaklah si kecil berjalan di luar ruangan, misalnya di halaman rumah atau taman. Ia membutuhkan ruang yng luas untuk mencoba kakai-kakinya bergerak lincah. Biarkan ia menjelajah ruangan dengan kakinya tanpa dipegang yang penting awasi agar ia tidak membentur benda keras seperti ujung meja.


PERKEMBANGAN MASA ANAK-ANAK AWAL

Masa anak-anak dimulai setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, Masa anak-anak berlangsung dari 2 tahun sampai 6 tahun, masa anak akhir dari usia 6 tahun sampai saat anak matang secara seksual. Masa anak-anak awal atau yang sering juga disebut masa prasekola

Perkembangan Fisik
            Selama masa anak-anak awal, pertumbuhan fisik berlangsung lambat dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan selama usia bayi. Pertumbuhan fisik yang lambat ini berlangsung sampai mulai munculnya tanda-tanda puberitas, yakni kira-kira 2 tahun menjelang anak matang secara seksual.

Tinggi dan Berat.
            Selama masa anak-anak awal, tinggi rata-rata anak bertumbuh 2.5 inci dan berat bertambah antara 2.5 hingga 3.5 Kg setiap tahunnya. Pada usia 3 tahun, tinggi anak sekitar 38 inci dan beratnya sekitar 16,5 pada usia 5 tahun. Tinggi anak mencapai 43.6 inci da beratnya 21.5 kg (Mussen, Conger & Kagan, 1969).
Selama masa ini, baik laki-laki maupun perempuan terlihat makin langsing, sementara batang tubuh mereka makin panjang.

Perkembangan Otak
            Diantara perkembangan fisik yang sangat penting semala masa anak-anak awal ialah perkembangan otak dan system saraf yang berlanjutan.
Proses ini berdampak terhadap peningkatan kecepatan informasi yang berjalan melalui system urat saraf. Beberapa ahli psikologi perkembangan percaya bahwa myelination adalah penting dalam pematangan sejumlah kemampuan anak-anak.

Perkembangan Motorik
            Sekitar usia 3 tahun, anak sudah dapat berjalan dengan baik, dan sekitar usia 4 tahun anak hamper menguasai cara berjalan orang dewasa. Usia 5 tahun anak sudah terampil menggunakan kakinya untuk berjalan dengan berbagai cara, seperti maju dan mundur, jalan cepat dan pelan-pelan, melompat dan berjingkrak, berlari-lari kesana kemari, memanjat, dan sebagainya yang semuanya dilakukan dengan lebih halus dan bervariasi.
            Anak usia 5 tahun juga dapat juga dapat melakukan tindakan-tindakan tertentu secara akurat, seperti menyeimbangkan badan di atas satu kaki, menangkap bola dengan baik, melukis mengguling dan melipat kertas, dan sebagainya.

Subtahap Intuitif (4-7)
            Istilah intuitif digunakan untuk menunjukan subtahap kedua dari pemikiran praoperasional yang terjadi pada anak dalam periode dari 4-7 tahun. Dalam hal ini walau anak dapat memecahkan masalah yang berhubungan dengan aktivitas ini, namun ia tidak bisa menurut cara-cara tertentu. Jadi, symbol-simbol anak meningkat kompleks, namun proses penalaran dan pemikiran masih mempunyai cirri-ciri keterbatasan tertentu.

Perkembangan Persepsi
            Meskipun persepsi telah berkembang sejak awal kehidupan, namun hingga masa anak-anak awal atau prasekolah, kemampuan atau kapasitas mereka untuk memproses informasi masih terbatas. Anak prasekolah sering mengalami banyak kesalahan dalam apa yang mereka lihar dan dengar. Anak prasekolah yang lebih besar penglihtan dekat mereka cenderung bertambah baik, yang membantu mereka melakukan tugas-tugas umum pada sekolah dasar, seperti membaca dan menulis.

Pengamatan Daya Ingat, Perasaan
            Dibandingkan dengan bayi, mengukur memori anak-anak jauh lebih mudah, karena anak-anak telah dapat memberikan raeksi secara verbal.
Memori Jangka Pendek
            Tes rentang memori pada umumnya dimasukan kedalam tes intelegensi yang dilakukan iten-itemnya (chaplin, 2002) dengan menggunakan tes ini, terbukti bahwa rentang memori meningkat bersamaan dengan tumbuhnya anak menjadi lebih besar. Penelitian Dempster misalnya membuktikan bahwa rentang memori anak meningkat sekitar 2 digit pada usia hingga 3 tahun dan sampai sekitar 2 hingga 3 tahun dan sampai 5 digit dapa usia 7 tahun. Tetapi antara usia 7 hingga 13 tahun, rentang memori hanya meningkat 1,5 digit (Santrock, 1995)

Memori Jangka Panjang
            Pada umumnya anak-anak yang masih kecil memiliki kemampuan memori rekognisi-suatu kesadaran bahwa objek, seseorang atau suatu peristiwa itu sudah dikenalnya, atau pernah dipelajarinya pada masa lalu-tetapi kurang mampu dalam memori Recall-suatu proses memanggil atau menimbulkan kembali dalam ingtan sesautu yang dipelajari.

Perkembangan Bahasa
            Anak-anak mengalami perkembangan bahasa yang sangat pesat, perkembangan bahasa yang cepat ini dianggap sebagai hasil perkembangan simbolisasi. Dengan demikian pada masa anak-anak telah mengalami sejumlah nama-nama dan hubungan antara symbol-simbol. Ia juga dapat membedakan berbagai benda disekitarnya serta melihat hubungan fungsional antara benda-benda tersebut.
Pada mulanya yang lebih menonjol bersifat egosentris (bentuk bahasa yang menonjol). Menjelang akhir masa anak awal percakapan anak-anak berangsur-angsur berkembang menjadi bahasa social. Bahasa social dipergunakan untuk hubungan, bertukar pikiran dan dan mempengaruhi orang lain. Bentuk bahasa adalah pengaduan dan keluhan, komentar buruk, kritikan dan pertanyaan. Ketika bahasa anak berubah dari bahasa yang bersifat egosentirs ke bahasa social, maka terjadi penyatuan antara bahasa dan pikiran. Penyatuan antara bahasa dan pikiran ini sangat penting bagi pembentukan sturktur mental anak.
Perkembangan Sosial
            Disamping perkembangangan fisik sebagaimana telah dibicarakan, masa anak awal juga ditandai dengan perkembangan psikososial yang cukup pesat. Beberapa perkembangan psikosial yang terjadi pada masa anak anak-anak diantaranya permainan, hubungan dengan orang lain dan perkembangan moral.

Perkembangan Moral
            Seiring dengan perkembangan sosial, anak-anak usia prasekolah juga mengalami perkembangan moral. Adapu yang yang dimaksud dengan perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dan interaksinya dengan orang lain (Stantrock, 1995). Anak-anak yang baru lahir tidak memiliki moral. Tetapi dalam dirinya terdapat potensi moral yang siap berinteraksi denga orang lain (orang tua, saudara dan teman sebaya), anak beajar memahami tentang prilaku mana yang baik, dan yang boleh dikerjakan atau tingkah laku mana yang buruk, yang tidak boleh dikerjakan.

PERKEMBANGAN MASA PERTENGAN DAN AKHIR ANAK-ANAK
            Masa pertengahan dan akhir anak-anak merupakan kelanjutan dalam masa awal anak-anak. Periode ini berlangsung dari usia 6 tahun hingga tiba saatnya individu menjadi matang secara seksual. Permulaan masa pertengahan dan akhir anak-anak ini ditandai dengan masuknya anak kelas satu sekolah dasar. Bagi sebagian besar anak ini, hal ini merupakan perubahan besar dalam pola kehidupannya. Sebab, masuk kelas satu merupakan peristiwa penting bagi anak yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan dalam sikap, nilai, dan perilaku.

Perkembangan fisik
            Masa pertengahan dan akhir anak-anak merupakan priode pertumbuhan fisik yang lambat dan dan relatif seragam sampai mulai terjadi perubahan-perubahan pubertas, kira-kira 2 tahun menjelang anak menjadi matang secara seksual, pada masa ini pertumbuhan berkembang pesat. Berikut ini akan dijelaskan beberapa aspek dari pertumbuhan fisik yang terjadi selama periode akhir anak-anak, di antaranya keadaan berat dan tinggi badan, dan ketrampilan motorik.

Keadaan berat dan tinggi badan
            Sampai dengan usia  sekitar 6 tahun terlihat badan anak bagian atas berkembang lebih lambat daripada bagian bawah. Anggota-anggota badan relatif masih pendek, kepala dan perut relatif masih besar. Selama masa akhir anak-anak, tinggi bertumbuh sekitar 5 hingga 6% dan berat bertambah sekitar 10% setiap tahun. Pada usia 6 tahun tinggi rata-rata anak adalah 46 inci dengan berat 22,5kg. Kemudian pada usia 12 tahun tinggi anak mencapai 60 inci dan berat 80 hingga 42,5kg (Mussen, Conger & Kagan, 1969).
            Jadi, pada massa ini peningkatan berat badan anak lebih banyak dari pada panjang badannya. Pertumbuhan fisik selama ini, disamping memberikan kemampuan bagi anak-anak untuk berpartisipasi dalam berbagai aktifitas baru, tetapi juga dapat menimbulkan permasalahan-permasalahan dan kesulitan-kesulitan secara fisik dan psikologis bagi mereka (Seifert & Hoffnung, 1994).

Perkembangan Motorik
            Sejak usia 6 tahun, koordinasi antara mata dan tangan (visiomotorik) yang dibutuhkan untuk membidik,menyepak,melempar, dan menangkap juga berkembang. Pada usia 7 tahun, tangan anak semakin kuat dan ia lebih menyukai pensil dari pada krayon untuk melukis. Dari usia 8 hingga 10 tahun, tangan dapat digunakan secara bebas, mudah dan tepat. Koordinasi motorik halus, berkembang, dimana anak-anak sudah dapat melukis dengan baik . pada usia 10 tahun hingga 12 tahun anak-anak sudah mulai memperlihatkan keterampilan-keterampilan manipulatif menyerupai kemampuan-kemampuan orang dewasa. Mereka mulai memperlihatkan gerakan-gerakan yang kopleks, rumit, dan cepat, yang diperlukan untuk menghasilkan karya kerajinann yang bermutu bagus atau memainkan instrumen musik tertentu (Santrock, 1995)
            Untuk memperhalus keterampilan-keterampilan motorik mereka, anak-anak terus melakukan berbagai aktifitas fisik. Aktifitas fisisk ini dilakukan dalam bentuk permainan yang kadang-kadang bersifat informal, permainan yang diakhiri sendiri oleh anak, seperti permainan umpet-umpetan, dimana anak menggunakan keterampilan motoriknya. Anak-anak masa sekolah ini mengembangkan kemampuan melakukan permainan dengan peraturan, sebab mereka sudah dapat memahami peraturan-peraturan suatu permainan. Pada waktu yang sama anak-anak mengalami penigkatan dalam koordinasi dan pemilihan waktu yang tepat dalam melakukan berbagai cabang olahraga baik secara individual maupun kelompok.
            Prtisipasi anak-anak dalam bidang  olahraga  dapat memberi latihan dan kesempatan untuk  belajar bersaing, meningkatkan harga diri (self -esteem), dan memperluas pergaulan dan persahabatan dengan teman-teman sebayanya.

Perkembangan Kognitif
            Seiiring dengan masuknya anak kesekolah dasar, maka kemampuan kognitifnya turut mengalami perkembangan yang pesat. Karena dengan masuk sekolah, berarti dunia anak-anak bertambah luas, dan dengna meluasnya minat maka bertambah pula pengertian tentang manusia dan objek-objek yang sebelumnya kurang berarti bagi anak. Dalam keadaa normal pikiran anak berkembang secara berangsur-angsur.  Jika pada masa sebelumnya daya pikir anak masih bersifat imajinatif dan egosentris, maka pada usia sekolah dasar ini daya pikir anak berkembang kearaa berfikir kongkrit, rasional dan obyektif. Daya ingatnya menjadi sangat kuat, sehingga anak benar-benar berada dalam suatu stadium belajar.

Perkembangan memori
            Selama tahun-tahun pertengahan dan akhir, anak-anak menunjukkan perubahan-perubahan penting bagaimana mereka mengorganisasi dan mengingat informasi. Selama masa awal anak-anak, memori jangka pendek mereka, telah berkembang dengan baik. Tetapi, setelah anak berusia 7 tahun tidak terlihat penigkatan yang berarti. Hal ini karena memori jangka panjang sangat tergantung pada kegiatan-kegiatan belajar individu ketika mempelajari dan mengingat informasi.
Meskipun selama periode pertengahan dan  periode akhir anak-anak ini tidak terjadi peningkatan yang berarti dalam memori jangka panjang, namun sebaliknya, anak-anak yang lebih tua berusaha menggunakan strategi yang lebih membantu dan mereka menggunakan strategi-strategi ini secara lebih konsisten. Matlin (1994) Menyebutkan 4 macam strategi memori yang penting yaitu:
            Rehearsal {pengulangan} adalah salah satu strategi meningkatkan memori dengan cara mengulangi berkali-kali informasi setelah informasi tersebut disajikan. Secara khusus adalah bahwa tingkat pengulangan menentukan keberhasilan memori (Schneider & Bjorklund, 1997)
            Organization (organisasi), seperti pengkategorian dan pengelompokan, merupakan strategi memori yang sering digunakan. Anak-anak yang masih kecil sudah dapat mengelompokkan secara spontan item-item yang sama untuk membantu proses memorinya.
            Imagery (perbandingan) adalah tipe dari karakteristik pembayangan dari seseorang {Chaplin, 2002}. Perbandingan juga merupakan salah satu strategi memori yang berkembang selama masa pertengahan dan akhir anak-anak. Demikian pentingnya penggunaan strategi perbandingan dalam meningkatkan memori anak-anak, Fly & lupart merekomendasikan agar para pendidik hendaknya memberikan lebih banyak pelajaran tentang bagaimana belajar (Matlin, 1994).
            Retrieval (pemunculan kembali) adalah proses mengeluarkan atau mengangkat informasi dari tempat penyimpanan {Chaplin, 2002}. pemunculan kembali juga merupakan strategi memori yang banyak digunakan oleh orang dewasa. Ketika suatu syarat yang mungkin dapat membantu orang dewasa memunculkan kembali sebuah memori, mereka akan menggunakannya secara spontan. Sebaliknya, anak-anak yang diberi suatu isyarat pemunculan kembali tidak berusaha menyelidiki secara mendalam memori mereka. Meskipun demikian, seiring dengan bertambahnya usia, anak-anak belajar bagaimana menggunakan keempat strategi rehearsal,    Organization, imagery, dan Retrieval.
            Perlu juga dipahami bahwa disamping strategi-strategi memori di atas, juga terdapat hal-hal lain yang mempengaruhi memori anak, seperti tingkat usia, sifat-sifat anak (termasuk sikap, motivasi, dan kesehatan), serta pengetahuan yang telah diperoleh anak sebelumnya.

Perkembangan Pemikiran Kritis
            Menurut Nickerson (dalam Seifert & Hoffnung, 1994) misalnya mendefinisikan pemikiran kritis sebagai “reflection or thought about complex issues, often for the purpose of choosing actions related to those issues.” Rumusan Santrock (1998) tentang pemikiran kritis adalah: “critical thinking involves grasping the deeper meaning of problems, keeping an open mind about different approaches and perspectives, not accepting on faith what other people and books tell you, and thinking reflectively rather than accepting the first idea that comes to mind.”
            Dari dua rumusan diatas dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan pemikiran kritis adalah pemahaman atau refleksi terhadap permasalahan secara mendalam, mempertahankan pikiran agar tetap terbuka bagi berbagai pendekatan dan perspektif yang berbeda, tidak mempercayai begitu saja informasi-informasi yang datang dari berbagai sumber (lisan atau tulisan), dan berpikir secara reflektif dan evaluatif.
            Para ahli Psikologi dan pendidikan belakangan ini semakin menyadari bahwa anak-anak di sekolah tidak hanya harus mengingat atau menyerap secara pasif berbagai informasi baru, melainkan mereka perlu berbuat lebih banyak dan belajar bagaimana berpikir secara kritis. Anak harus memiliki kesadaran akan diri dan lingkungannya. Karena itu, pendidikan di sekolah haruslah mampu membangun kesadaran kritis anak didik.
            Menurut Santrock (1998), untuk mampu berpikir secara kritis, anak harus mengambil peran aktif dalam proses belajar. Ini berarti bahwa anak anak mengembangkan berbagai proses berpikir aktif, seperti:
1.            Mendengarkan secara seksama;
2.            Mengidentifikasi dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan;
3.            Mengorganisasikan pemikiran-pemikiran mereka;
4.            Memperhatikan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan;
5.            Melakukan deduksi;
6.            Membedakan antara kesimpulan-kesimpulan yang secara logika valid dan tidak valid.

Perkembangan Intelegensi (IQ)
            Dalam pembahasan tentang perkembangan kognitif anak usia sekolah, masalah kecerdasan atau intelegensi mendapat banyak perhatian di kalangan psikolog. Hal ini adalah karena intelegensi telah dianggap sebagai suatu norma yang menentukan perkembangan kemampuan dan pencapaian optimal hasil belajar anak di sekolah. Dengan mengetahui intelegensinya, seorang anak dapat dikategorikan sebagai anak yang pandai atau cerdas (genius), sedang, atau bodoh (idiot).
Perkembangan Kecerdasan Emosional (EQ)
            Dalam khasanah disiplin ilmu pengetahuan, terutama psikologi, istilah kecerdasan emosional(emotional intellegence), merupakan sebuah istilah yang relatif baru. Menurut Daniel Golleman berdasarkan penelitian neorolog dan psikolog yang menunjukkan bahwa kecerdasan emosional sama pentingnya dengan kecerdasan intelektual. Berdasarkan penelitian para neorolog dan psikolog tersebut, maka Golleman (1995) berkesimpulan bahwa setiap manusia memiliki dua potensi pemikiran, yaitu pemikiran rasional dan pemikiran emosional. Pemikiran rasional di gerakkan oleh kemampuan intelektual atau dengan populer dengan sebutan intlelligence quotient(IQ), sedangkan pemikiran emosional digerakkan oleh emosi.
            Mengenali emosi orang lain(recognizing emotions in other) empati yaitu, kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain, mampu memahami perspektif mereka, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan orang banyak atau masyarakat. Emosi jarang diungkapkan melalui kata-kata, melainkan lebuh sering diungkapkan melalui pesan non verbal, seperti melalui nada suara, ekspresi wajah, gerak-gerik, dan sebagainya.
            Demikian pentingnya faktor emosi dalam menentukan keberhasilan belajar anak, maka De Porter, Reardon dan Singer-Nourie, menyarankan agar guru memahami emosi para siswa mereka. Dengan memperhatikan dan memahami emosi siswa, apa yang mendapat guru mempercepat proses pembelajaran yang lebih bermakna dan permanen. Memperhatikan dan memahami emosi siswa berarti membangun ikatan emosional, dengan menciptakan kesenangan dalam belajar, menjalin hubungan, dan menyingkirkan segala ancaman dari suasana belajar. Dengan kondisi belajar yang demikian, para siswa lebih sering ikut serta dalam kegiatan sukarela yang berhubungan dengan bahan pelajaran. Untuk membangun hubungan emosional dengan siswa tersebut, DePorter, Reardon, dan Singer Nourie (2001), merekomendasikan beberapa hal berikut:
1.            Perlakukan siswa sebagai manusia sederajat.
2.            Ketahuilah apa yang di sukai siswa, cara pikir mereka, dan perasaan mereka mengenai hal hal yang terjadi dalam kehidupan mereka.
3.            Bayangkan apa yang mereka katakan kepada diri sendiri, mengenai diri sendiri.
4.            Keahuilah apa yang menghambat mereka untuk memperoleh hal yang benar-benar mereka inginkan. Jika anda tidak tahu, tanyakanlah.
5.            Berbicaralah dengan jujur pada mereka, dengan cara yang membuat mereka mendengarkannya dengan jelas dan halus.
6.            Bersenang-senanglah dengan mereka.

Perkembangan Kecerdasan Spiritual (SQ)
            Spiritual Quotient atau kecerdassan spiritual (SQ) merupakan temuan mutakhir secara ilmiah yang pertama kali digagas oleh Danah Zohar & Ian Marshall, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kecerdasan spiritual adalah ”kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bagwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain”.
Menurut Yadi Kurwanto (2003), ada dua hal yang diangap penting oleh Zohar & Marshall, yaitu aspek nilai dan makna sebagai unsur penting dari SQ. Hal ini terlihat dari beberapa ungkapan Zohar & Marshall sendiri, diantaranya:
1.              SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai.
2.              SQ adalah kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.
3.              SQ adalah kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.
4.              SQ adalah kecerdasan yang tidak hanya untuk mengetahui nilai-nilai yang ada, tetapi juga untuk secara kreatif menemukan nilai-nilai baru.

Perkembangan Hubungan Dengan Keluarga
            Kemerosotan dalam hubungan keluarga yang dimulai pada akhir masa bayi terus berlanjut pada masa pertengahan dan akhir anak-anak. Sesuai dengan perkembangan kognitifnya yang semakin matang, maka pada masa pertengahan dan akhir, anak secara berangsur angsur lebih banyak mempelajari mengenai sikap-sikap dan motifasi orang tuanya, serta memahami aturan-aturan keluarga, sehingga mereka menjadi lebih mampu untuk mengendalikan tingkah lakunya. Perubahan ini mempunyai dampak yang besar terhadap kualitas hubungan antara anak-anak usia sekolah dan ornag tua mereka (dalam Seifert & Hoffnung, 1994). Dalam hal ini, orang tua merasakan pengontrolan dirinya terhadap tingkah laku anak mereka berkurang dari waktu kewaktu dibandingkan pada tahun-tahun awal kehidupan mereka. Beberapa kendali dialihkan dari orang tua kepada anaknya, walaupun prosesnya secara bertahap dan merupakan koregulasi.
            Perubahan-perubahan ini berperan dalam pembentukan stereotip pengasuhan dari orang tua sepanjang masa akhir anak-anak. Dalam hal ini, orang tua memandang pengasuhan hanya meliputi mengurus masalah makanan, atau penerapan beberapa aturan saja. Stereotip pengasuhan demikian jelas tidak mempertimbangkan aktifitas orang tua dan anak yang masih sering dilakukan secara bersama-sama. Stereotip pengasuhan ini juga tidak memprtimbangkan hubungan emosional yang mendasari aktifitas-aktifitas tersebut.
            Suatu studi mendokumentasikan mengenai gagasan ini dengan menganalisis surat-surat yang ditulis oleh anak-anak usia sekolah pada salah satu surat kabar lokal dengan tema : apa yang memebuat ibu jadi terhormat. Komentar-komentar ini menyiratkan bahwa pada masa akhir anak-anak, secara tipikal ikatan antara orang tua dan anak-anak adalah sangat kuat (Seifert & Hoffnung, 1994).

PERKEMBANGAN MASA REMAJA
            Remaja adalah sebagai periode tertentu dari kehidupan manusia merupakan suatu konsep yang relative baru dalam kajian psikologi.Istilah remaja dikenal dengan nama “adolescence” yang berasal dari kata dalam bahasa latin “adolescere” (ata benda adolescentia) yang berarti tumbuh menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa.
         Untuk merumuskan sebuah definisi yang memadai tentang remaja tidaklah mudah .namun sejak abad ke -19 muncul konsep adolesen sebagai suatu periode kehidupan tertentu yang berbeda dari masa anak-anak dan dewasa.

Perkembangan fisik
            Perubahan –perubahan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan masa remaja , yang berdampak terhadap perubahan psikologis. Perkembangan fisik terdiri dari

Perubahan dalam tinggi dan berat
            Tinggi rata-rata anak laki-laki dan perempuan pada usia 12 tahun adalah sekitar 59 atau 60 inchi.tetapai pada usia 18 tahun , tingi rata-rata remaja laki-laki adalah 69 inchi.Tingkat pertumbuhan tertinggi pada usia sekitar 11 atau 12 untuk anak perempuan dan 2 tahun kemudian untuk anak laki-laki.

Perubahan dalam proporsi tubuh
            Perubahan-perubahan pada proporsi tubuh selama masa remaja terlihat pada perubahan ciri-ciri wajah dan lainnya.

Perubahan pubertas
            Pubertas (puberty) ialah suatu periode dimana kematangan kerangka dalam seksual terjadi dengan pesat terutama pada awal remaja.
Perubahan ciri-ciri seks primer
            Menunjuk pada organ tubuh yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi .perubahan-perubahan pada cirri seks primer laki-laki dipengaruhi oleh hormon. Sedangkan perempuan ditandai dengan periode menstruasi.

Perubahan ciri-ciri seks sekunder
            Tanda-tanda jasmaniah yang tidak langsung berhubungan dengan proses reproduksi,naming merupakan tanda-tanda yang membedakan antara laki-laki dan perempuan tanda jasmaniah yang muncul sebgai konsekuensi dari berfungsinya hormon-hormon.

Perkembangan Kognitif
            Masa remaja adalah suatu periode kehidupan di mana kapasitas untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan secara efisien mencapai puncaknya (Mussen Conger & kagan, 1969)hal ini adalah karena selama periode remaja ini,proses pertumbuhan otak mencapai kesempurnaan. System saraf yang berfungsi memproses impormasi berkembang dengan cepat. Di samping itu, pada masa remaja ini juga terjadi

Perkembangan Kognitif menurut teori Piaget
            Ditinjau dari perspektif teori kognitif Piaget, maka pemikiran masa remaja telah mencapai tahap pemikiran Operasional Formal (Formal operational thought), yakni suatu tahap perkembangan kognitif yang dimulai pada usia kira-kira 11 atau 12 tahun dan terus berlanjut sampai remaja mencapai masa tenang atau dewasa(lerner & hustlsch, 1983). Pada tahap ini anak sudah dapat berpikir secara abstrak dan hipotetis. Dan juga Pada masa ini, anak sudah mampu memikirkan sesuatu yang akan atau mungkin terjadi, sesuatu yang abstrak. Disamping itu remaja sudah mampu berpikir secara sistematik untuk memecahkan masaalah.

Perkembangan Pengambilan Keputusan
            Pengambilan keputusan (decision making) merupakan salah satu perbuatan berpikir dan hasil dari perbuatan itu disebut keputusan. Remaja adalah masa di mana terjadi peningkatan pengambilan keputusan. Dalam hal ini mulai mengambil keputusan-keputusan tentang masa depan, keputusan dalam memilih taman, keputusan tentang apakah melanjutkan kuliah setelah tamat SMU atau mencari kerja, dan lain sebagainya.

Perkembangan Orientasi Masa Depan
            Orientasi masa depan merupakan salah satu fenomena perkembangan Kognitif yang tejadi pada masa remaja. Sebagai indipidu yang sedang mengalami proses peralihan dari masa anak-anak mencapai kedewasaan, remaja memiliki tugas-tugas perkembangan yang mengarah pada persiapannya memenuhi tuntutan dan harapan peran sebagai orang dewasa. Oleh sebab itu sebagaimana yang dikemukakan oleh Elizabeth B. Hurlock (1981), remaja mulai memikirkan tentang masa depan mereka secara sungguh-sungguh. Remaja mulai memberikan perhatian yang besar terhadap berbagai lapangan kehidupan yang akan di jalaninya sebagai manusia dewasa di masa mendatang. Di antara lapangan kehidupan di masa depan yang banyak mendapat perhatian remaja adalah lapangan pendidikan (Nurmi, 1989), di samping duniah kerja dan hidup berumah tangga (Havighurst, 1984).


Perkembangan Kognisi Sosial
Menurut Decey & Kenny (1997), yang di maksud dengan kognisi sosial adalah kemampuan berpikir secara kritis mengenai isu-isu dalam hubungan interpersonal, serta berguna memahami orang lain dan menentukan bagaimana melakukan interaksi dengan mereka

0 komentar: