Jumat, 24 Februari 2012

ISLAM DAN PERKEMBANGAN PENGETAHUAN

print this page
A. Pendahuluan
Sejak awal kelahirannya, Islam sudah memberikan penghargaan yang sangat besar terhadap ilmu. Jika kita telusuri akar sejarahnya, pandangan Islam tentang pentingnya ilmu tumbuh bersamaan dengan munculnya Islam itu sendiri. Ketika Rasulullah SAW. menerima wahyu pertama, yang mula-mula diperintahkan kepadanya adalah “membaca”.[1] Sebagaimana malaikat Jibril memerintahkan kepada Nabi Muhammad:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١)
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu yang menciptakan” (QS. Al-’Alaq: 96: 1)


Perintah ini tidak hanya sekali diucapkan Jibril tetapi berulang-ulang sampai Nabi dapat menerima wahyu tersebut. Dari kata iqra inilah kemudian lahir berbagai makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca teks baik yang tertulis maupun tidak.[2]
Pada perkembangan selanjutnya Al-Quran dan Hadis dijadikan sebagai sumber ilmu yang dikembangkan oleh umat Islam dalam lingkup yang seluas-luasnya. Lebih jauh lagi kedua sumber pokok Islam ini memainkan peran ganda dalam penciptaan dan pengembangan ilmu-ilmu.
Adapun peran itu adalah pertama, prinsip-prinsip semua ilmu dipandang kaum Muslimin terdapat dalam Alquran. Dan sejauh pemahaman terhadap Alquran, terdapat pula penafsiran yang bersifat esoteris terhadap kitab suci ini, yang memungkinkan tidak hanya pengungkapan misteri-misteri yang dikandungnya tetapi juga pencarian makna secara lebih mendalam, yang berguna untuk pembangunan paradigma ilmu.
Kedua, Alquran dan Hadis menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan ilmu dengan menekankan kebajikan dan keutamaan menuntut ilmu, pencarian ilmu dalam segi apa pun pada akhirnya akan bermuara pada penegasan Tauhid. Karena itu, seluruh metafisika dan kosmologi yang lahir dari kandungan Alquran dan Sunnah merupakan dasar pernbangunan dan pengembangan ilmu Islam. Singkatnya, Alqur’an dan Sunnah menciptakan atmosfir khas yang mendorong aktivifas intelektual dalam konformitas.[3]
Dengan semangat Islam yang besar menuntut ilmu, menjadikan kaum muslim memburu ilmu-ilmu pengetahuan dan berbagai negara dan peradaban dunia diantaranya ilmu pengetahuan Yunani dan India, namun bukan berarti ilmu pengetahuan Islam belum berkembang sebelum pengadopsian ilmu dari dunia luar.
Setelah berinteraksi ilmu Islam dengan ilmu pengetahuan yang lain maka munculah ilmuwan-ilmuwan baru dari kalangan kaum muslim. seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan yang lainnya. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan munculnya ilmuwan menjadikan peradaban Islam menjadi pusat peradaban terutama, di masa pemerintahan Daulah Umaiyah, Abbasiyah, dan Fatimiyah. Peradaban inilah yang menjadi cikal bakal perkembangan renaisans di dunia barat.
Dalam makalah ini, terkait dengan Islam dan perkembangan ilmu pengetahuan yang mana objek pembahasan sangat luas, maka dalam hal ini penulis menfokuskan objek yang akan dibahas yaitu:
1. Sejarah dan pengertian Islamisasi Ilmu pengetahuan
2. Pengertian Etika dan Etika dalam Pengembangan Ilmu-Ilmu Keislaman
 
B. Islamisasi Ilmu Pengetahuan
1. Sejarah Islamisasi
Proses Islamisasi ilmu pengetahuan pada dasarnya telah berlangsung sejak permulaan Islam hingga zaman kita sekarang ini. Ayat-ayat pertama QS al-Alaq: 1-5. yang diwahyukan kepada nabi secara jelas menegaskan semangat Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, yaitu ketika Allah menekankan bahwa Dia adalah sumber dan asal ilmu manusia.[4] Ide yang disampaikan al-Qur'an tersebut membawa suatu perubahan radikal dari pemahaman umum bangsa Arab pra-Islam, yang menganggap suku dan tradisi kesukuan serta pengalaman empiris, sebagai sumber ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.
Pada sekitar abad ke-8 masehi, pada masa pemerintahan Daulah Bani Abbasiyah, proses Islamisasi ilmu ini berlanjut secara besar-besaran, yaitu dengan dilakukannya penterjemahan terhadap karya-karya dari Persia dan Yunani yang kemudian diberikan pemaknaan ulang disesuaikan dengan konsep Agama Islam. Salah satu karya besar tentang usaha Islamisasi ilmu adalah hadirnya karya Imam al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah, yang menonjolkan 20 ide yang asing dalam pandangan Islam yang diambil oleh pemikir Islam dari falsafah Yunani, beberapa di antara ide tersebut bertentangan dengan ajaran Islam yang kemudian dibahas oleh al-Ghazali disesuaikan dengan konsep aqidah Islam. Hal yang sedemikian tersebut, walaupun tidak menggunakan pelabelan Islamisasi, tapi aktivitas yang sudah mereka lakukan semisal dengan makna Islamisasi[5]
 2. Pengertian Islamisasi
Pengertian Islamisasi ilmu pengetahuan oleh Al-Attas di definisikan yaitu Pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, kultur-nasional (yang bertentangan dengan Islam) dan dari belengu paham sekuler terhadap pemikiran dan bahasa. Juga pembebasan dari kontrol dorongan fisiknya yang cenderung sekuler dan tidak adil terhadap hakikat diri atau jiwanya, sebab manusia dalam wujud fisiknya cenderung lupa terhadap hakikat dirinya yang sebenarnya, dan berbuat tidak adil terhadapnya. Islamisasi adalah suatu proses menuju bentuk asalnya yang tidak sekuat proses evolusi dan devolusi[6]
Ini artinya dengan Islamisasi ilmu pengetahuan, umat Islam akan terbebaskan dari belenggu hal-hal yang bertentangan dengan Islam, sehingga timbul keharmonian dan kedamaian dalam dirinya, sesuai dengan fitrahnya.
Untuk melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan tersebut, menurut al-Attas, perlu melibatkan dua proses yang saling berhubungan. Pertama ialah melakukan proses pemisahan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat, dan kedua, memasukan elemen-elemen Islam dan konsep-konsep kunci ke dalam setiap cabang ilmu pengetahuan masa kini yang relevan. Jelasnya ilmu hendaknya diserapkan dengan unsur-unsur dan konsep utama Islam setelah unsur-unsur dan konsep pokok dikeluarkan dari setiap ranting.
Al-Attas menolak pandangan bahwa Islamisasi ilmu bisa tercapai dengan melabelisasi sains dan prinsip Islam atas ilmu sekuler. Usaha yang demikian hanya akan memperburuk keadaan dan tidak ada manfaatnya selama virusnya masih berada dalam tubuh ilmu itu sendiri sehingga ilmu yang dihasilkan pun jadi mengambang, Islam bukan dan sekulerpun juga bukan. Padahal tujuan dari Islamisasi itu sendiri adalah untuk melindungi umat Islam dari ilmu yang sudah tercemar yang menyesatkan dan menimbulkan kekeliruan. Islamisasi ilmu dimaksudkan untuk mengembangkan kepribadian muslim yang sebenarnya sehingga menambah keimanannya kepada Allah, dan dengan Islamisasi tersebut akan terlahirlah keamanan, kebaikan, keadilan dan kekuatan iman.
Sedangkan menurut al-Faruqi, Islamisasi adalah usaha untuk mendefinisikan kembali, menyusun ulang data, memikirkan kembali argumen dan rasionalisasi yang berkaitan dengan data itu, menilai kembali kesimpulan dan tafsiran, memproyeksikan kembali tujuan-tujuan dan melakukan semua itu sedemikian rupa sehingga disiplin-disiplin ini memperkaya wawasan Islam dan bermanfaat bagi cause (cita-cita). [7]
Dan untuk menuangkan kembali keseluruhan khazanah pengetahuan umat manusia menurut wawasan Islam, bukanlah tugas yang ringan yang harus dihadapi oleh intelektual-intelektual dan pemimipin-pemimpin Islam saat ini. Karena itulah, untuk melandingkan gagasannya tentang Islamisasi ilmu, al-Faruqi meletakan "prinsip tauhid" sebagai kerangka pemikiran, metodologi dan cara hidup Islam. Prinsip tauhid ini dikembangkan oleh al-Faruqi menjadi lima macam kesatuan, yaitu (1) Kesatuan Tuhan, (2) Kesatuan ciptaan, (3) Kesatuan kebenaran dan Pengetahuan, (4) Kesatuan kehidupan, dan (5) Kesatuan kemanusiaan.[8]
Secara umum, Islamisasi ilmu tersebut dimaksudkan untuk memberikan respon positif terhadap realitas ilmu pengetahuan modern yang sekularistik dan Islam yang "terlalu" religius, dalam model pengetahuan baru yang utuh dan integral tanpa pemisahan di antaranya. Sebagai panduan untuk usaha tersebut, al-Faruqi menggariskan satu kerangka kerja dengan lima tujuan dalam rangka Islamisasi ilmu, tujuan yang dimaksud adalah:
1.      Penguasaan disiplin ilmu modern.
2.      Penguasaan khazanah warisan Islam
3.      Membangun relevansi Islam dengan masing-masing disiplin ilmu modern
4.      Memadukan nilai-nilai dan khazanah warisan Islam secara kreatif dengan ilmu-ilmu modern
5.      Pengarahan aliran pemikiran Islam ke jalan-jalan yang mencapai pemenuhan pola rencana Allah.[9]
Untuk merealisasikan  tujuan-tujuan tersebut, al-Faruqi menyusun 12 langkah yang harus ditempuh terlebih dahulu. Langkah-langkah tersebut adalah:
1.     Penguasaan disiplin ilmu modern: prinsip, metodologi, masalah, tema dan perkembangannya
2.      Survei disiplin ilmu
3.      Penguasaan khazanah Islam: ontologi
4.      Penguasaan khazanah ilmiah Islam: analisis
5.      Penentuan relevansi Islam yang khas terhadap disiplin-disiplin ilmu.
6.     Penilaian secara kritis terhadap disiplin keilmuan modern dan tingkat perkembangannya di masa kini
7.      Penilaian secara kritis terhadap khazanah Islam dan tingkat perkembangannya dewasa ini
8.      Survei permasalahan yang dihadapi umat Islam
9.      Survei permasalahan yang dihadapi manusia
10.  Analisis dan sintesis kreatif
11.  Penuangan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam
12.  Penyebarluasan ilmu yang sudah diislamkan.[10]
Dalam beberapa hal, antara al-Attas dengan al-Faruqi mempunyai kesamaan pandangan, seperti pada tataran epistemologi mereka sepakat bahwa ilmu tidak bebas nilai (value free) tetapi terikat (value bound) dengan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya.[11] Mereka juga sependapat bahwa ilmu mempunyai tujuan yang sama yang konsepsinya disandarkan pada prinsip metafisika, ontologi, epistemologi dan aksiologi dengan tauhid sebagai kuncinya.
Mereka juga meyakini bahwa Allah adalah sumber dari segala ilmu dan mereka sependapat bahwa akar permasalahan yang dihadapi umat Islam saat ini terletak pada sistem pendidikan yang ada, khususnya masalah yang terdapat dalam ilmu kontemporer. Dalam pandangan mereka, ilmu kontemporer atau sains modern telah keluar dari jalur yang seharusnya. Sains modern telah menjadi "virus" yang menyebarkan penyakit yang berbahaya bagi keimanan umat Islam sehingga unsur-unsur buruk yang ada di dalamnya harus dihapus, dianalisa, dan ditafsirkan ulang sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran Islam.
Walaupun cukup banyak persamaan yang terdapat di antara keduanya, dalam beberapa hal, secara prinsip, mereka berbeda. Untuk mensukseskan proyek Islamisasi, al-Attas lebih menekankan kepada subjek daripada ilmu, yaitu manusia, dengan melakukan pembersihan jiwa dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji, sehingga dalam proses Islamisasi ilmu tersebut dengan sendirinya akan terjadi transformasi pribadi serta memiliki akal dan rohani yang telah menjadi Islam secara kaffah. Sedangkan al-Faruqi lebih menekankan pada objek Islamisasi yaitu disiplin ilmu itu sendiri. Hal ini mungkin saja menimbulkan masalah, khususnya ketika berusaha untuk merelevansikan Islam terhadap sains modern, karena bisa saja yang terjadi hanyalah proses labelisasi atau ayatisasi semata.[12]
Terdapat juga perbedaan yang cukup mencolok mengenai ruang lingkup yang perlu diislamkan. Dalam hal ini, al-Attas membatasi hanya pada ilmu-ilmu pengetahuan kontemporer atau masa kini sedangkan al-Faruqi meyakini bahwa khazanah keilmuan Islam masa lalu juga perlu untuk diislamkan kembali sebagaimana yang telah dia canangkan di dalam kerangka kerjanya. Dan satu hal lagi, dalam metodologi bagi proses Islamisasi ilmu, al-Attas berpandangan bahwa definisi Islamisasi itu sendiri telah memberi panduan kepada metode pelaksanaannya di mana proses ini melibatkan dua langkah sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Sedangkan bagi al-Faruqi, hal itu belumlah cukup sehingga ia merumuskan suatu kaedah untuk Islamisasi ilmu pengetahuan berdasarkan prinsip-prinsip pertamanya yang melibatkan 12 langkah.
Selain kedua tokoh di atas, ada beberapa pengembangan definisi dari Islamisasi ilmu pengetahuan tersebut. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Osman Bakar, Islamisasi ilmu pengetahuan adalah sebuah program yang berupaya memecahkan masalah-masalah yang timbul karena perjumpaan antara Islam dengan sains modern sebelumnya.[13] Progam ini menekankan pada keselarasan antara Islam dan sains modern tentang sejauhmana sains dapat bermanfaat bagi umat Islam.
M. Zainuddin menyimpulkan bahwa Islamisasi pengetahuan pada dasarnya adalah upaya pembebasan pengetahuan dari asumsi-asumsi Barat terhadap realitas dan kemudian menggantikannya dengan worldviewnya sendiri (Islam).[14]

C. Etika Pengembangan Ilmu-Ilmu Keislaman
1. Pengertian Etika
Dalam mendefinisikan etika para ahli mengemukakan beberapa pendapat diantaranya:
 “Etika adalah studi tentang tingkah laku manusia, tidak hanya menentukan kebenarannya sebagaimana adanya, tetapi juga menyelidiki manfaat atau kebaikan seluruh tingkah laku manusia”.[15]
“Etika adalah ilmu tentang  filsafat moral, tidak mengenai fakta, tetapi tentang nilai-nilai, tidak mengenai sifat tindakan manusia tetapi tentang idenya”.[16]
“Etika adalah ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang  buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh dapat diketahui oleh akal pikiran”.[17]
“Objek material etika adalah tingkah laku manusia dan objek formalnya adalah buruk atau baiknya perbuatan mereka atau bermoral dan tidak bermoralnya tingkah laku manusia”.[18]
Jika objek material dan objek formalnya adalah seperti di atas, maka di dalam Islam dapat disebut dengan akhlak yang ukurannya telah ditetapkan Allah yang di informasikan kepada para Nabi dan Rasul melalui Malaikat Jibril hingga kepada Rasul Muhammad SAW.[19] Di dalam sebuah hadits dinyatakan:  اِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ, yang artinya: “Aku hanya diutus untuk menyempurnakan Akhlak”. Siti Aisyah isteri Rasulullah ditanya tantang akhlak Rasulullah, ia menjelaskan bahwa akhlak Rasulullah adalah Alquran كَانَ خُلُقُه الْقُرآن .[20] Pertanyaan ini berkaitan dengan Alquran surah 68 ayat 4:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ (٤)
Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.S. Al-Qalam:4)
Di dalam agama Islam standar akhlak diterangkan dengan sempurna pada semua hal yang menyangkut kepentingan untuk menjaga dan memelihara kebahagiaan manusia dalam menunaikan tugas mereka sebagai khalifah di bumi yang berdiri tegak di atas kata adil, yaitu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dan ihsan lawan fahsya, munkar dan melampaui batas yang juga disebut zhalim, tabdziir dan israf. Dalam Alquran surah an-Nahal ayat 90 Allah SWT menjelaskan:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (٩٠)
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” [21](Q.S. An-Nahal: 90)                 
Inilah di antara batasan-batasan etika/moral/akhlak dalam alquran, belum lagi dalam Hadits Nabi Muhammad SAW, jelas gamblang dan pasti, datang dari Rabbul ’Alamin yang Maha Mengetahui. Dari hadits dan ayat-ayat di atas, dapat dikemukakan bahwa akhlak dalam Islam adalah: ”Ketentuan dari Allah dan rasul-Nya tentang ukuran buruk dan baiknya tingkah laku atau perbuatan manusia.”
Apapun ukuran etika/moral yang datang dari selain Allah, pada hakekatnya hanyalah hasil akal pikiran dan hawa nafsu dengan interaksinya dengan alam yang dapat diindra baik secara langsung maupun secara tidak langsung melalui apa yang disebut ilmu. Berikut akan dikemukakan hal ini lebih jauh, berkenaan dengan ukuran baik dan buruk.

2.    Etika dalam Pengembangan Ilmu-ilmu Keislaman
Ilmu sangat bermanfaat, tetapi juga bisa menimbulkan bencana bagi manusia dan alam semesta tergantung dengan orang-orang yang menggunakannya. Karena itu ilmu sebagai masyarakat, karena ilmu didukung dan dikembangkan oleh masyarakat yang mematuhi kaedah-kaedah tertentu.[22] Untuk itu perlu ada etika, ukuran-ukuran yang diyakini oleh para ilmuwan yang dapat menjadikan pengembangan ilmu dan aplikasinya bagi kehidupan manusia tidak menimbulkan dampak negatif.
Berkaitan dengan etika pengembangan ilmu ini, Yusuf Al-Qardhawi dalam bukunya Metode dan Etika Pengembangan Ilmu Perspektif Sunnah mengemukakan bahwa ada tujuh moralitas ilmu yang harus diperhatikan oleh setiap ilmuan, yaitu:
1.            Rasa tanggung jawab di hadapan Allah, Semakin luas penguasaan akan ilmu oleh seorang ulama/ilmuwan, maka semakin berat tanggung jawabnya.
2.    Amanat Ilmiah. Sifat amanah merupakan kemestian iman termasuk ke dalam moralitas ilmu, tak ada iman bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah. Dalam memberikan kriteria orang beriman Allah menjelaskan dalam firman-Nya:
وَالَّذِينَ هُمْ لأمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (٨)
Artinya: “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” (Q.S. Al-Mukminun: 8) 
3.      Tawadhu. Salah satu moralitas yang harus dimiliki oleh ilmuan ialah tawadhu. Orang yang benar berilmu tidak akan diperalat oleh ketertipuan dan tidak akan diperbudak oleh perasaan ‘ujub mengagumi diri sendiri, karena dia yakin bahwa ilmu itu adalah laksana lautan yang tidak bertepi yang tidak ada seorang pun yang akan berhasil mencapai pantainya. Maha benar Allah dengan firman-Nya:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلا قَلِيلا (٨٥)
Artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (Q.S. Al-Isra: 85) 
4.    Izzah. Perasaan mulia yang merupakan fadhillah paling spesifik bagi kaum muslimin secara umum. Allah berfirman:
يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الأعَزُّ مِنْهَا الأذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لا يَعْلَمُونَ (٨)
Artinya:    “Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya." Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (Q.S. Al-Munafiqun: 8) 
Izzah di sini adalah perasaan diri mulia ketika menghadapi orang-orang yang takabbur atau orang yang berbangga dengan kekayaan, keturunan, kekuatan atau kebanggaan-kebanggaan lain yang bersifat duniawi. Izzah adalah bangga dengan iman dan bukan dosa dan permusuhan. Suatu perasaan mulia yang bersumber dari Allah dan tidak mengharapkan apapun dari manusia, tidak menjilat kepada orang yang berkuasa.
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ (١٠)
Artinya: “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. dan rencana jahat mereka akan hancur.” (Q.S. Fathir: 10)
 5.  Mengutamakan Ilmu
Salah satu moralitas yang orisinil dalam Islam adalah menerapkan ilmu dalam pengertian bahwa ada keterkaitan antara ilmu dan iradah. Kehancuran kebanyakan manusia adalah karena mereka berilmu, tetapi tidak mengamalkan ilmu itu atau mengamalkan sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang mereka ketahui.
6.    Menyebarkan ilmu
Menyebarkan ilmu adalah moralitas yag harus dimiliki oleh para ilmuwan/ulama, mereka berkewajiban agar ilmu tersebar dan bermanfaat bagi masyarakat. Ilmu yang disembunyikan tidak mendatangkan kebaikan, sama halnya dengan harta yang ditimbun.[23] Ketika Haji Wada’ diakhir khutbah Rasulullah SAW berpesan: “Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.” (Hadits Muttafaq ‘Alaihi). Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang ditanya tentang sesuatu yang diketahuinya, lalu dia menyembunyikannya, ada hari kiamat dia dibelenggu dengan belenggu dari apai neraka.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu Hibban, Ibnu Majah, At-Tirmidzi, Al-Naihaqi dan Al-Hakim)
Kewajiban menyebarkan ilmu hanya dibatasi jika ilmu yang disebarkan itu akan menimbulkan akibat negatif bagi yang menerimanya atau akan mengakibatkan dampak negatif bagi orang lain atau jika disampaikan akan menimbulkan mudaratnya lebih banyak daripada manfaatnya.[24]
7.    Hak Cipta dan Penerbit
Mengenai hak cipta dan penerbit digambarkan bahwa kehidupan para ilmuan tidak semudah kehidupan orang lain pada umumnya, karena menuntut kesungguhan yang khusus melebihi orang lain, seorang ilmuwan pengarang memerlukan perpustakaan  yang kaya dengan referensi penting dan juga memerlukan pembantu yang menolongnya untuk menukil, mengkliping dan sebaginya dan memerlukan pula orang yang mendapat menopang khidupa keluarganya.
Tanpa semua itu tidak mungkin seorang pengarang akan menghasilkan suatu karya ilmiah yang berbobot. Di samping itu, jika suatu karya ilmiah telah diterbitkan kadang-kadang pengarang masih memerlukan lagi untuk mengadakan koreksi dan perbaikan-perbaikan, semua ini memerlukan tenaga dan biaya. Oleh karena itu, jika dia sebagai pemilik suatu karya ilmiah maka dialah yang berhak mendapatkan sesuatu berkenan dengan karya ilmiahnya.
Tetapi perlu diingat dan dipertegas satu hal, bahwa jangan sampai penerbit dan pengarang mengeksploitasi para pembaca dengan menaikkan harga buku-buku dengan harga yang tidak seimbang dengan daya beli pembaca atau pendapatan yang diperoleh pembaca. Jika terjadi yang demikian maka hal itu tidak dibenarkan oleh syara’.









D.     Kesimpulan
            Dari uraian singkat diatas dapat diambil beberapa simpulkan sebagai berikut:
  1. Dalam kaitannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan,  Islam sendiri memberikan pandangan dan penghargaan yang sangat besar terhadap ilmu. Pandangan tersebut tumbuh bersamaan dengan munculnya Islam itu sendiri, ketika Rasulullah SAW. menerima wahyu pertama.
  2. Sejarah Islamisasi ilmu pengetahuan pada dasarnya telah berlangsung sejak permulaan Islam hingga zaman kita sekarang ini yaitu ketika Ayat-ayat pertama QS al-Alaq: 1-5. yang diwahyukan kepada nabi secara jelas menegaskan semangat Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, yaitu ketika Allah menekankan bahwa Dia adalah sumber dan asal ilmu manusia.
  3. Dalam pengembangan Ilmu-ilmu keislaman di sini diperlukan sebuah etika yaitu ukuran-ukuran moral atau akhlak yang diyakini oleh para ilmuwan atau ulama yang mengembangkan ilmu dan aplikasinya itu tidak menimbulkan dampak negatif bagi umat manusia

DAFTAR PUSTAKA
A. Athaillah, Sejarah Al-Qur’an, Verifikasi Tentang Otentitas Al-Qur’an, Banjarmasin: Antasari Press, 2007
Abdul Rasyid, Kumpulan Khotbah Jum’at Cahaya Mimbar, Bandung: Husaini, 1990
Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Pengetahuan Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2004
Al-Faruqi, Ismail Raji, Islamisasi Pengetahuan Bandung: Pustaka, 1984
Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu Edisi. 3; Jakaita: PT. Raja Grafindo Persada, 2006
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Cet. 3; Jakarta: Kahinah, 2001
Carter V Good Ed, Dictionary of Education, New York: Mc GrawHill Book Co, 1973
Hamid Fahmy dkk, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas Bandung: Mizan, 1998
Hamzah Ya’cub, Etika Isalm, Bandung: Dipenogoro, 1983
Lewis Mulford Adams, New Masters Pictorial Encyclopedia, New York: Subsidiary of Publishers Co, 1965
M. Yusran Salman, Hadits I Diktat Bab X Anjuran Menuntut Ilmu dan menyebarkannya, Banjarmasin: Fakultas Dakwah IAIN Antasari, 1992
M. Zainuddin, Filsafat Ilmu: Persfektif Pemikian Islam Malang: Bayu Media, 2003
M.Quraish Shihab, Wawasan AI-Quran: Tairsir MauduI atas Berbagai Persoalan Umat, Cet. 12; Bandung: Mizan, 2001
Muhammad Taqiyud Din Al-Hilali and Muhammad Muhsin Khan, The Noble Quran in The English Language, Saudi Arabiya: Darussalam Riyad, 2001
Noeng Muhadjir, Filsafat Telaah Sistematis Fungsional Komparatif, Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998
Osman Bakar, Tauhid dan Sains Bandung: Pustaka Hidayah, 1994
Rosnani Hashim, Gagasan Islamisasi Kontemporer: Sejarah, Perkembangan dan Arah Tujuan, dalam Islamia: Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam INSIST: Jakarta, Thn II No.6/ Juli-September 2005
Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Jakarta: Ciputat Pers, 2002
Team Penyusun Fak. Filsafat UGM, Filsafat Ilmu sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Klaten: Intan Pariwara, 1977
Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas, diterjemahkan oleh Hamid Fahmy dkk, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas Bandung: Mizan, 1998



[1] Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu (Edisi. 3; Jakaita: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), h. 32.
[2] M.Quraish Shihab, Wawasan AI-Quran: Tairsir MauduI atas Berbagai Persoalan Umat, (Cet. 12; Bandung: Mizan, 200 1), h. 433.
[3] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, (Cet. 3; Jakarta: Kahinah, 2001), h. 13.
[4] Hamid Fahmy dkk, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas (Bandung: Mizan, 1998), h. 341
[5] Rosnani Hashim, Gagasan Islamisasi Kontemporer: Sejarah, Perkembangan dan Arah Tujuan, dalam Islamia: Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam (INSIST: Jakarta, Thn II No.6/ Juli-September 2005), h.32
[6] Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas, diterjemahkan oleh Hamid Fahmy dkk, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas (Bandung: Mizan, 1998), h. 336.
[7] Al-Faruqi, Ismail Raji, Islamisasi Pengetahuan (Bandung: Pustaka, 1984), h.36.
[8] Ibid., h.55-96.
[9] Ibid., h. 98.
[10] Ibid., h. 99-118.
[11] Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Pengetahuan (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2004), h. 46-49.
[12] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), h. 124.
[13] Osman Bakar, Tauhid dan Sains (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), h. 233.
[14] M. Zainuddin, Filsafat Ilmu: Persfektif Pemikian Islam (Malang: Bayu Media, 2003), h. 160
[15] Carter V Good (Ed), Dictionary of Education, (New York: Mc GrawHill Book Co, 1973), h. 219
[16] Lewis Mulford Adams, New Masters Pictorial Encyclopedia, (New York: Subsidiary of Publishers Co, 1965), h. 460.
[17] Hamzah Ya’cub, Etika Isalm, (Bandung: Dipenogoro, 1983), h. 13
[18] Team Penyusun Fak. Filsafat UGM, Filsafat Ilmu sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan, (Klaten: Intan Pariwara, 1977), h. 20.
[19] A. Athaillah, Sejarah Al-Qur’an, (Verifikasi Tentang Otentitas Al-Qur’an), (Banjarmasin: Antasari Press, 2007), h. 15.
[20] Abdul Rasyid, Kumpulan Khotbah Jum’at (Cahaya Mimbar), (Bandung: Husaini, 1990), h. 47.
[21] Muhammad Taqiyud Din Al-Hilali and Muhammad Muhsin Khan, The Noble Quran in The English Language, (Saudi Arabiya: Darussalam Riyad, 2001), h. 545.
[22] Noeng Muhadjir, Filsafat Telaah Sistematis Fungsional Komparatif, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998),  h. 148.
[23] M. Yusran Salman, Hadits I (Diktat) Bab X Anjuran Menuntut Ilmu dan menyebarkannya, (Banjarmasin: Fakultas Dakwah IAIN Antasari, 1992), h. 35-36.
[24] Ibid., h. 37
Dikutip dari berbagai sumber 

0 komentar: